Gingivitis (radang gusi) adalah penyakit akibat infeksi bakteri yang menyebabkan gusi bengkak karena meradang.

Penyebab utama kondisi ini adalah kebersihan mulut yang buruk. Orang yang jarang sikat gigi, sering makan makanan yang manis dan asam, tidak rutin cek gigi ke dokter adalah yang paling berisiko mengalami gingivitis.
Banyak orang yang sering tidak tahu mereka memiliki penyakit ini karena gejalanya tidak begitu jelas. Namun, radang gusi tidak boleh dibiarkan berlarut tanpa pengobatan.
Gingivitis adalah penyakit gusi dan mulut yang umum. Kondisi ini dapat dialami siapa saja tanpa memandang jenis kelamin terutama mereka yang tidak menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Radang gusi yang tidak diobati dapat berkembang semakin parah. Masalah gusi ini dapat menyebabkan periodontitis, yaitu infeksi gusi serius yang bisa merusak jaringan tulang penyokong gigi. Periodontitis dapat menyebabkan gigi tanggal dan berbagai masalah serius lainnya.
Anda dapat terhindar dari risiko penyakit ini dengan mencegah faktor risiko yang ada. Silakan konsultasi ke dokter gigi untuk informasi lebih lanjut.
Peradangan pada gusi umumnya tidak langsung menyebabkan rasa sakit. Akibatnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya mengalami kondisi ini.
Meski begitu, ada beberapa tanda dan gejala dari penyakit radang gusi yang bisa Anda waspadai sejak dini, di antaranya:
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter gigi.
Hanya dokter gigi yang dapat mengenali dan menentukan seberapa parah penyakit gusi yang Anda alami.
Apabila Anda menyadari mengalami satu atau beberapa gejala gingivitis di atas, segera periksa ke dokter gigi. Ingat, gejala radang gusi seringkali tidak disadari.
Jadi, semakin cepat Anda berobat ke dokter, maka semakin besar pula peluang sembuhnya. Tak hanya itu, semakin cepat Anda berobat ke dokter gigi maka Anda dapat menghindari risiko kerusakan gusi serius seperti periodontitis.
Seperti yang sudah dijelaskan sedikit di atas, penyebab paling umum dari radang gusi adalah kebersihan mulut yang buruk sehingga mendorong terbentuknya plak. Dikutip dari Mayo Clinic, hal ini pula yang bisa menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan gusi.
Penyebab utama dari peradangan ini adalah penumpukan plak. Plak sendiri merupakan lapisan lengket bakteri yang terbentuk dari endapan sisa-sisa makanan di permukaan gigi.
Plak yang dibiarkan terus-terusan menumpuk dalam jangka waktu lama akan mengeras dan membentuk karang gigi di bawah garis gusi. Nah, karang gigi inilah yang memicu peradangan pada gusi.
Seiring waktu, gusi Anda akan bengkak dan mudah berdarah. Karies gigi pun bisa saja terjadi. Jika tidak segera diobati, radang gusi dapat berkembang menjadi periodontitis yang menyebabkan gigi tanggal atau copot.
Berikut adalah tahapan dari mulai pembentukan plak sampai menjadi radang pada gusi:
Apabila Anda tidak segera membersihkannya dengan pergi ke dokter, iritasi akibat penumpukan plak dapat menyebabkan radang gusi. Gusi menjadi bengkak juga berdarah. Apabila tidak segera diobati, maka akan terjadi kerusakan gigi hingga periodontitis.
Ada banyak faktor risiko yang bisa membuat Anda mengalami radang gusi, di antaranya:
American Academy of Periodontology mengatakan sebanyak 30 persen kasus penyakit gusi disebabkan oleh faktor genetik. Jadi, apabila kakek, nenek, kedua orang tua, dan saudara kandung Anda ada yang mengalami radang gusi, maka kemungkinan Anda berisiko mengalaminya juga.
Orang dengan riwayat turunan radang gusi enam kali lebih berisiko mengalami berbagai bentuk penyakit gusi.
Apabila Anda jarang sikat gigi, flossing, dan periksa ke dokter gigi, Anda berisiko tinggi mengalami radang gusi.
Mulut kering dapat memengaruhi kesehatan gusi. Kondisi mulut kering membuat gusi lebih rentan mengalami peradangan dan pembengkakan.
Tambalan gigi yang rusak dapat meningkatkan risiko infeksi penyebab gingivitis serta melukai gigi lainnya.
Orang yang kekurangan vitamin C lebih mudah mengalami masalah gigi dan mulut, termasuk radang gusi.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan bahwa perokok dua kali lebih berisiko mengalami penyakit gusi ketimbang orang yang tidak merokok.
Perubahan hormon yang dialami wanita selama kehamilan, menstruasi bulanan, dan menopause dapat meningkatkan sirkulasi darah ke gusi. Ini membuat gusi lebih mudah mengalami peradangan, bengkak, dan perdarahan.
Berdasarkan data dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), gingivitis menjadi salah satu penyakit yang umum menyerang ibu hamil. Biasanya kondisi ini menyerang di trimester awal kehamilan yaitu pada bulan kedua dan memuncak sekitar bulan ke delapan.
Meski kelihatannya sepele, radang gusi saat hamil bisa menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan janin yang sedang dikandung. Hal itupun tercantum pada penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Obstetrics and Gynecology.
Menderita radang gusi pada saat hamil membuat Anda berpeluang melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) bila mengalami radang gusi selama kehamilan. Bukan hanya berisiko menyebabkan BBL, radang gusi atau gingivitis juga dapat meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur.
Hal ini diduga karena bakteri yang menjadi penyebab radang gusi saat hamil dapat masuk ke dalam aliran darah, dan kemudian berjalan ke area tempat di mana janin berada. Inilah yang kemudian meningkatkan risiko persalinan prematur serta berat bayi lahir rendah (BBLR).
Mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti pil KB, steroid, antikonvulsan (obat kejang), kemoterapi, obat pengencer darah, serta calcium channel blocker dinilai dapat meningkatkan risiko terkena radang gusi.
Orang yang punya riwayat kondisi medis tertentu, seperti diabetes, kanker, dan HIV/AIDS berisiko tinggi terkena radang gusi karena sistem kekebalan tubuhnya cenderung lemah.
Hal ini perlu diperhatikan karena akan sulit bagi tubuh mereka untuk melawan bakteri penyebab infeksi.
Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.
Gingivitis atau radang gusi dapat didiagnosis melalui pemeriksaan oleh dokter gigi. Selama pemeriksaan, dokter gigi akan memeriksa gusi untuk melihat ada tidaknya peradangan sembari menanyakan riwayat kesehatan Anda secara menyeluruh.
Dokter juga akan mengukur kedalaman kantong gusi Anda. Kedalaman kantong gusi idealnya berkisar dari 1-3 milimeter.
Bila diperlukan, dokter gigi juga dapat melakukan pemeriksaan rontgen untuk melihat ada tidaknya tulang gigi yang retak atau patah.
Beberapa pengobatan paling umum untuk mengatasi nyeri radang gusi di antaranya:
Dokter gigi juga mungkin merekomendasikan prosedur non-operasi untuk membersihkan gigi Anda agar tidak semakin mengiritasi gusi.
Berikut beberapa perawatan untuk membersihkan gigi yang dapat dilakukan dokter gigi:
Bila Anda ingin membersihkan plak dan karang gigi yang minim rasa sakit dan perdarahan, laser jadi solusi yang terbaik.
Dalam kasus serius, operasi flap dapat dilakukan untuk mengangkat plak dan karang gigi dari kantong gusi.
Dokter mungkin juga akan melakukan prosedur cangkok tulang dan jaringan jika kerusakan gigi yang Anda alami terlampau parah.
Cara terbaik untuk mencegah gingivitis adalah dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut. Saran ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa, tapi juga untuk anak-anak. Semakin dini terbiasa menjaga kebersihan gigi dan mulut, maka akan semakin baik.
Berikut beberapa langkah mudah membiasakan diri menjaga kebersihan gigi dan mulut setiap hari.
Dalam kasus ringan, penyakit radang gusi biasanya dapat diobati dengan lebih rajin menyikat gigi. Gosoklah gigi Anda setidaknya dua kali sehari (pagi dan malam) dengan teknik menyikat gigi yang tepat.
Sikat gigi secara perlahan dengan gerakan melingkar dari atas ke bawah. Lakukan dengan cara yang sama untuk setiap bagian selama 20 detik.
Semua permukaan gigi harus disikat, tak ada yang boleh terlewat agar tidak ada sisa makanan yang menyangkut. Terakhir, bilas mulut Anda dengan berkumur-kumur pakai air bersih.
Memilih alatnya pun juga harus tepat. Gunakan sikat yang berbulu lembut dengan kepala berujung kecil agar dapat menjangkau bagian mulut terdalam. Pastikan juga ganggang sikat yang Anda gunakan nyaman ketika dipegang.
Sementara untuk pasta gigi, pilih yang mengandung fluoride. Fluoride efektif untuk memperkuat dan melindungi gigi Anda dari kerusakan.
Supaya benar-benar bersih, jangan lupa untuk melakukan flossing. Flossing adalah teknik membersihkan gigi menggunakan benang untuk menghilangkan sisa makanan yang tersangkut di sela gigi dan di bawah garis gusi.
Jika Anda konsisten menggosok gigi dan flossing, gusi akan tetap terjaga dalam kondisi terbaiknya. Pertahankan kebiasaan sikat gigi dan flossing secara tepat agar terhindar dari masalah mulut.
Rokok merupakan faktor risiko terbesar untuk gingivitis dan penyakit gusi. Bahkan para ahli mencatat bahwa orang yang merokok tujuh kali berisiko terkena penyakit gusi daripada yang bukan perokok.
Maka dari itu, mulai dari sekarang Anda harus berusaha untuk berhenti merokok. Selain mencegah radang gusi, berhenti merokok juga dapat meningkatkan kesehatan tubuh Anda secara menyeluruh.
Nutrisi yang tepat dapat membantu sistem kekebalan tubuh Anda lebih efektif melawan bakteri penyebab gingivitis. Hindari mengonsumsi makanan dan minuman yang terlalu banyak gula.
Sebaiknya, perbanyaklah makan buah dan sayur serta makanan lainnya yang mengandung vitamin C dan E. Kedua jenis vitamin ini dapat membantu tubuh Anda dalam memperbaiki jaringan yang rusak.
Stres juga dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut Anda. Bila Anda stres, maka sistem kekebalan tubuh akan lebih sulit dalam melawan bakteri penyebab infeksi. Anda pun akan lebih rentan mengalami gingivitis dan penyakit gusi lainnya.
Hal lain yang tak kalah penting untuk mencegah radang gusi adalah rutin periksa ke dokter gigi. Pemeriksaan secara berkala dapat memudahkan dokter memantau kesehatan gigi dan mulut Anda secara menyeluruh.
Apabila dokter sewaktu-waktu menemukan adanya masalah pada gusi maupun gigi Anda, ia akan lebih cepat untuk memberikan pengobatan yang sesuai.
Kunjungi dokter gigi secara rutin setiap 6-12 bulan sekali. Namun, jika ada faktor risiko tertentu yang membuat Anda lebih rentan terkena gingivitis, Anda mungkin harus lebih sering konsultasi.
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
(2020). An Overview of Gum Disease. Retrieved 23 March 2020, from https://www.webmd.com/oral-health/guide/gingivitis-periodontal-disease#1
Gingivitis, Gum Disease, & Periodontitis. (2020). Retrieved 23 March 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10950-gingivitis-and-periodontal-disease-gum-disease
Gingivitis – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 23 March 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gingivitis/symptoms-causes/syc-20354453
Versi Terbaru
09/12/2021
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
Diperbarui oleh: Nanda Saputri