Leukoplakia adalah salah satu jenis masalah mulut berupa bercak-bercak keputihan atau abu-abu yang muncul pada bagian dalam dinding mulut, gusi, atau lidah.

Terkadang, leukoplakia tidak hanya menimbulkan bercak putih saja, tapi juga membuat permukaan lidah menjadi kasar atau berbulu. Kondisi ini disebut dengan oral hairy leukoplakia (OHL).
Bercak keputihan ini dapat terbentuk akibat beberapa faktor. Namun, penyebab paling umum dari kondisi ini adalah konsumsi tembakau jangka panjang seperti rokok.
Selain rokok, pemasangan gigi palsu yang tidak tepat serta kebiasaan menggigit bagian dalam pipi juga berpotensi menimbulkan bercak-bercak tersebut.
Kondisi leukoplakia timbul akibat reaksi mulut terhadap iritasi kronis pada selaput lendir mulut. Kondisi ini berbeda dengan masalah mulut lain yang memiliki gejala serupa, seperti sariawan atau lichen planus, karena kondisi ini berpotensi berkembang menjadi kanker mulut.
Namun, tidak semua kasus leukoplakia berubah menjadi kanker mulut. Alih-alih merupakan kondisi medis tertentu, leukoplakia adalah sebutan untuk berbagai macam luka berwarna putih di mulut.
Kemungkinan kanker muncul tergantung pada ukuran, bentuk, dan keberadaan sel-sel abnormal pada mulut. Dokter gigi Anda dapat menyarankan biopsi apabila area tersebut terlihat membahayakan.
Leukoplakia adalah masalah mulut yang cukup jarang terjadi. Kondisi ini termasuk berisiko dan dapat berkembang menjadi kanker. Dalam 15 tahun, ditemukan sel kanker skuamosa pada 3 hingga 17,5 persen penderita leukoplakia.
Masalah mulut ini lebih umum terjadi pada pasien berusia lanjut yang berada di rentang usia 40 hingga 70 tahun. Kasus kejadian penyakit ini pada pasien berusia 20-an relatif rendah.
Selain itu, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pasien berjenis kelamin pria dibanding pasien wanita, dengan rasio pria dan wanita sekitar 2:1.
Leukoplakia merupakan kondisi yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter gigi.
Leukoplakia dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Berikut merupakan penjelasan mengenai masing-masing jenis dari leukoplakia, di antaranya adalah:
Bercak yang terdapat pada jenis ini memiliki warna putih yang merata, tekstur lunak, berkerut, dan kasar. Bentuk dari bercak homogenik ibi menyerupai bercak yang terdapat di sariawan biasa.
Bercak jenis nonhomogenik memiliki warna putih dan merah, tidak merata, bertekstur seperti benjolan-benjolan kecil (nodular) dan timbul. Jenis leukoplakia ini memiliki kemungkinan 7 kali lebih besar untuk berkembang menjadi sel kanker.
PVL atau yang disebut dengan florid papillomatosis, merupakan salah satu subtipe dari nonhomogenik yang paling langka dan berkembang secara cepat dibanding dengan jenis-jenis lainnya.
Bercak yang terdapat pada PVL dipercaya merupakan infeksi dari virus Epstein-Barr, salah satu jenis virus herpes. Terkadang, bercak yang muncul disertai pula dengan serat-serat halus menyerupai rambut. Kondisi ini disebut dengan oral hairy leukoplakia (OHL).
Tanda-tanda dan gejala dari penyakit ini dapat dilihat dengan jelas, yaitu munculnya perubahan pada tampilan gusi, bagian dalam pipi, bawah mulut, atau lidah Anda. Perubahan tersebut dapat muncul dalam bentuk:
Pada beberapa kasus, khususnya jenis leukoplakia yang berambut, kondisi ini memengaruhi orang dengan sistem imun yang melemah akibat pengobatan atau suatu penyakit, terutama HIV/AIDS.
Leukoplakia menyebabkan munculnya bercak putih dan bulu halus. Bercak tersebut menyerupai lipatan atau benjolan dan ditemukan di bagian samping lidah.
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.
Kadang luka pada mulut dapat mengganggu atau terasa sakit walaupun tidak membahayakan. Namun pada kasus tertentu, masalah pada mulut dapat mengindikasikan kondisi yang lebih serius.
Kunjungi dokter gigi apabila Anda memiliki:
Tubuh masing-masing penderita bisa menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan medis yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan, periksakan gejala apapun yang Anda rasakan ke dokter sesegera mungkin.
Umumnya, leukoplakia dapat diatasi dengan mudah dan tidak akan menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan-jaringan mulut.
Namun, jika leukoplakia tidak segera ditangani, bercak putih yang terdapat di mulut berpotensi meningkatkan risiko terkena kanker mulut.
Sel-sel kanker dapat berkembang dari bercak-bercak putih tersebut. Meskipun bercak putih telah dibersihkan melalui operasi, tetap ada kemungkinan sel-sel kanker tersisa di dalam mulut.
Hingga saat ini, para ahli masih menelusuri apa penyebab pasti dari leukoplakia. Namun, diyakini bahwa penyebab dari leukoplakia adalah iritasi kronis pada mulut.
Mulut yang teriritasi dalam jangka panjang dapat menyebabkan jaringan-jaringan di dalamnya mengalami pembengkakan, penebalan, dan terkadang menghasilkan zat yang disebut dengan keratin.
Keratin merupakan protein penting untuk menjaga kesehatan lapisan terluar kulit. Selain itu, keratin berperan dalam pembentukan struktur sel-sel kulit, serta melindungi kulit dari cedera atau luka. Protein ini juga membantu menyembuhkan luka terbuka pada kulit.
Bercak-bercak putih di dalam mulut umumnya merupakan gejala dari cedera atau luka ringan, dan tidak selalu dikaitkan dengan leukoplakia. Berikut ini beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya luka atau cedera pada mulut.
Zat yang dihasilkan dari pembakaran tar tembakau dan resin dapat mengiritasi mulut perokok aktif. Oleh karen itu, merokok dalam jangka panjang berpotensi memicu pembentukan bercak-bercak putih di dalam mulut.
Ada efek samping dari minuman beralkohol yang bisa terjadi pada tubuh. Hal ini dikarenakan kandungan bahan-bahan yang berisiko merusak membran mukosa, yaitu lapisan dalam kulit.
Jika bentuk mulut dan gigi memiliki kelainan sejak lahir, seperti adanya maloklusi atau gigi yang terlalu tajam, maka bagian dalam dinding mulut berisiko untuk tergigit. Hal ini juga berpotensi menyebabkan luka dan timbul bercak putih.
Sementara untuk oral hairy leukoplakia, penyebab utamanya adalah infeksi virus Epstein-Barr (EBV). Tepat setelah terinfeksi, virus EBV akan menetap di dalam tubuh Anda seumur hidup. Namun, biasanya virus ini tidak aktif.
Ketika sistem kekebalan tubuh Anda sedang melemah, virus EBV akan aktif kembali sehingga bisa mengembangkan bercak putih leukoplakia berbulu kapan saja.
Kondisi-kondisi lain yang kemungkinan memengaruhi munculnya leukoplakia adalah:
Leukoplakia adalah kondisi mulut yang dapat terjadi pada hampir setiap orang, terlepas dari berapapun usianya dan apa kelompok rasnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.
Perlu Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan menderita suatu kondisi kesehatan atau penyakit tertentu.
Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan seseorang terkena penyakit atau kondisi kesehatan tertentu tanpa ada satu pun faktor risiko.
Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu kemunculan leukoplakia.
Kondisi kesehatan ini lebih umum ditemukan pada pasien yang memasuki usia 50-70 tahun. Sekitar 80% penderita kondisi ini berusia di atas 40 tahun.
Kebanyakan kasus kemunculan bercak putih di mulut terjadi pada pasien berjenis kelamin laki-laki. Namun, penyebab pasti dari faktor ini masih belum diketahui secara pasti.
Tembakau pada rokok diyakini dapat menjadi penyebab utama dari timbulnya bercak-bercak putih pada mulut.
Apabila Anda pernah menjalani prosedur pemasangan gigi palsu, namun prosedur tersebut dilakukan secara kurang tepat, hal tersebut berpotensi mengakibatkan terjadinya iritasi pada mulut.
Penyakit yang memengaruhi sistem imun tubuh, seperti HIV/AIDS, dapat meningkatkan risiko penderitanya untuk memiliki bercak-bercak di dalam mulut. Selain itu, penderita HIV/AIDS juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terpapar infeksi virus Epstein-Barr yang dapat memperbesar peluang terkena leukoplakia.
Dalam mendiagnosis kondisi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan yang berfokus pada bagian mulut, seperti:
Ketika dokter atau tim medis meyakini bahwa bercak putih yang Anda miliki bukan sariawan biasa, Anda mungkin akan menjalani pemeriksaan tambahan berupa biopsi.
Prosedur ini dilakukan dengan cara mengambil sel-sel dari bercak dengan sikat kecil. Namun, hasil dari biopsi jenis ini terkadang tidak cukup akurat untuk menentukan apakah ada sel kanker pada bercak.
Pada prosedur ini, dokter akan menyayat sebagian jaringan dari bercak putih di mulut Anda. Kemudian, jaringan tersebut akan diperiksa di laboratorium.
Fokus utama dari pengobatan leukoplakia adalah untuk menghilangkan bercak-bercak putih, serta mencegah kondisi tersebut kambuh di lain waktu. Selain itu, menghilangkan sumber atau mengatasi penyebab iritasi juga membantu proses pengobatan.
Tingkat keberhasilan pengobatan akan lebih tinggi apabila bercak atau luka ditemukan pada fase awal, yaitu ketika ukurannya masih kecil.
Jadi, usahakan untuk selalu memerhatikan perubahan yang tampak dan tidak biasa di area mulut. Lalu, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.
Pengobatan biasanya juga berfokus pada mengurangi atau menghilangkan sumber iritasi, misalnya dengan menghentikan konsumsi tembakau atau alkohol.
Bila cara tersebut dinilai kurang efektif, dokter akan merekomendasikan penanganan lainnya.
Anda mungkin akan diberi resep obat-obatan sistemik, seperti obat antivirus. Obat-obatan tersebut bertujuan untuk melawan virus Epstein-Barr, terutama yang ditemukan pada kasus leukoplakia berambut.
Selain obat minum, dokter juga akan meresepkan obat oles atau topikal retinoat yang diaplikasikan langsung pada area kulit yang terdampak.
Dalam beberapa kasus, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan prosedur bedah atau operasi untuk menghilangkan bercak. Prosedur bedah dilakukan menggunakan pisau bedah, laser, atau alat yang dapat membekukan dan menghancurkan sel kanker (cryoprobe).
Setelah berhenti menjalani pengobatan atau prosedur bedah, Anda diharuskan kembali ke dokter untuk pemeriksaan lanjutan. Hal ini penting karena kemungkinan bercak putih masih dapat muncul kembali di lain waktu.
Berikut adalah tips perubahan gaya hidup yang bisa Anda ikuti untuk mengatasi kondisi ini:
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, rokok adalah salah satu pemicu utama kondisi ini. Oleh karena itu, ada baiknya untuk segera berhenti merokok atau menggunakan produk tembakau lainnya.
Pastikan Anda memiliki jadwal rutin mengunjungi dokter gigi, setidaknya 6 bulan sekali. Hal ini penting agar kesehatan dan kebersihan mulut senantiasa terjaga, sehingga Anda terhindar dari risiko mengalami kondisi ini.
Kondisi ini juga berkaitan dengan defisiensi atau kekurangan vitamin A dan B. Maka dari itu, tambahkan menu makanan yang sehat, bernutrisi, dan tentunya kaya akan kedua jenis vitamin tersebut.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Harris, Christopher. Oral Leukoplakia: Background, Pathophysiology, Epidemiology. (2020). Retrieved 13 April 2020, from https://emedicine.medscape.com/article/853864-overview#a4
Leukoplakia; Causes, Symptoms, Management & Treatment. (2020). Retrieved 13 April 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17655-leukoplakia
Leukoplakia – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 13 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/leukoplakia/symptoms-causes/syc-20354405
Ioanina PARLATESCU, S. (2014). Oral Leukoplakia – an Update. Mædica, 9(1), 88. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4268300/
Huizen, Jennifer. Leukoplakia: Symptoms, causes, and prevention. (2020). Retrieved 13 April 2020, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/317689
Moore, Kristen. What is Leukoplakia?. (2020). Retrieved 13 April 2020, from https://www.healthline.com/health/leukoplakia
Versi Terbaru
04/01/2021
Ditulis oleh Shylma Na'imah
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
Diperbarui oleh: Nanda Saputri