Sebagai tanaman yang pamornya bermanfaat untuk kecantikan kulit, ternyata lidah buaya juga disebut-sebut dapat membantu mengobati luka. Lidah buaya dipercaya bisa mengobati luka bakar atau sekadar luka lecet di kulit. Benarkah demikian?
Sebagai tanaman yang pamornya bermanfaat untuk kecantikan kulit, ternyata lidah buaya juga disebut-sebut dapat membantu mengobati luka. Lidah buaya dipercaya bisa mengobati luka bakar atau sekadar luka lecet di kulit. Benarkah demikian?


Lidah buaya merupakan salah satu obat tradisional yang sering digunakan untuk membantu mengobati berbagai luka, termasuk luka bakar dan luka lecet. Tanaman ini dapat membantu menyembuhkan luka sebab mampu meningkatkan produksi keratinosit yang cukup kuat dan menambah rangsangan migrasi sel kulit.
Keratinosit merupakan sel yang menyusun epidermis dan berfungsi untuk mencegah kelembapan serta senyawa kimia asing yang keluar masuk tubuh.
Selain itu, lidah buaya juga mengandung senyawa glukomanan. Senyawa ini bisa mendorong pertumbuhan regenerasi sel dan produksi kolagen, yaitu protein yang dapat mempercepat penyembuhan luka.
Selain itu, menurut penelitian dari jurnal Wounds, lidah buaya memiliki efek antiradang, antivirus, dan antiseptik yang dipercaya dapat membantu proses penyembuhan luka.
Dengan meningkatnya produksi keratinosit kulit, maka luka semakin cepat menutup dan pulih. Rasa sakit dan peradangan pada luka Anda pun bisa berkurang berkat penggunaan lidah buaya.

Gel lidah buaya biasanya digunakan untuk mengobati luka terbuka agar terlindungi dari paparan senyawa asing lingkungan luar.
Jika Anda lebih memilih untuk menggunakan gel lidah buaya langsung dari tanamannya, ada beberapa langkah yang bisa membantu Anda untuk mengolahnya menjadi gel segar, seperti di bawah ini.
Cara menggunakannya pun cukup mudah. Apabila Anda mengalami luka terbakar karena paparan sinar matahari, oleskan lidah buaya beberapa kali dalam sehari pada daerah tersebut.
Namun, ketika luka bakar yang Anda alami termasuk parah, segera konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menggunakan lidah buaya.

Meskipun termasuk obat topikal yang aman digunakan untuk menyembuhkan luka, bukan berarti lidah buaya tidak memiliki efek samping.
Bagi orang yang memiliki kulit yang sensitif, lidah buaya bisa menimbulkan reaksi alergi berupa gatal-gatal dan menimbulkan sensasi terbakar. Tidak hanya itu, lidah buaya juga bisa menurunkan kemampuan alami kulit Anda untuk pulih dari bekas luka operasi.
Sebaiknya, hindari pemakaian gel lidah buaya langsung pada kulit yang terinfeksi. Hal tersebut dikarenakan terdapat sifat mikroba yang bisa mengganggu proses penyembuhan dan memperparah infeksi Anda.
Selain itu, dianjurkan untuk tidak mengonsumsi lidah buaya secara oral, baik memakannya langsung atau dalam bentuk kapsul untuk menyembuhkan luka.
Konsumsi obat lidah buaya justru hanya akan memberikan efek yang sedikit pada kulit dan sifatnya seperti obat pencahar, sehingga meningkatkan risiko masalah pencernaan.
Lidah buaya memang bisa digunakan untuk mengobati luka pada kulit bagian luar. Namun, jika luka tersebut termasuk parah, segera cari bantuan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Cherney, PhD, K. (2019). Aloe Vera for Face: 10 Benefits, Side Effects, and More. Retrieved 1 November 2019, from https://www.healthline.com/health/beauty-skin-care/aloe-vera-for-face
Cronkleton, E. (2018). How to Use Aloe Vera Plant: Benefits, Risks, and More. Retrieved 1 November 2019, from https://www.healthline.com/health/how-to-use-aloe-vera-plant#overview
Leech, J. (2017). Aloe vera: Eight health benefits. Retrieved 1 November 2019, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/318591.php
Teplicki, E. et al. (2018). The Effects of Aloe vera on Wound Healing in Cell Proliferation, Migration, and Viability. Wounds. Retrieved 1 November 2019.
Versi Terbaru
24/06/2021
Ditulis oleh Nabila Azmi
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Rina Nurjanah
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)