Sarkoma kaposi (SK) adalah jenis penyakit kanker yang berkembang di jaringan sekitar pembuluh darah dan pembuluh limfa. Biasanya, penyakit ini muncul sebagai tumor di kulit atau pada permukaan selaput lendir (mukosa) di dalam mulut.

Akan tetapi, tumor ini juga bisa muncul di bagian tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, paru-paru, atau saluran cerna.
Penyakit kanker ini terbagi menjadi beberapa jenis. Lebih jelasnya, jenis sarkoma kaposi tersebut adalah:
Jenis ini paling umum menyerang masyarakat Amerika serikat, yakni pada orang yang terinfeksi HIV. Jadi, seseorang yang mengalami penyakit sarkoma kaposi tipe ini, secara otomatis dirinya juga telah mengidap AIDS.
HIV sendiri adalah human immunodeficiency virus, yakni virus yang menyebabkan penyakit AIDS. Seseorang yang terkena AIDS akan mengalami kerusakan sistem kekebalan tubuh parah, sehingga ia jadi sangat rentan terkena berbagai jenis infeksi.
Jenis kanker ini umumnya menyerang pria lansia, ketimbang wanita yang tinggal di Eropa Timur, Timur Tengah, dan pesisir Laut Tengah. Tumbuhnya lesi jaringan abnormal) cukup lambat dan lebih mungkin menyerang orang yang terinfeksi HPV (human papilloma virus).
Jenis kanker ini umumnya menyerang orang-orang Afrika yang terinfeksi virus herpes, atau penyakit lain yang menyebabkan sistem imun menjadi lemah. Kanker ini juga lebih rentan menyerang usia muda dan dapat menyebar dengan cepat.
Jenis kanker sarkoma ini terjadi setelah transplantasi organ dilakukan. Seorang pasien yang menerima transplantasi organ biasanya diminta untuk meminum obat penekan sistem imun.
Tujuannya agar sistem imun tidak menolak dan menyerang organ baru yang dipasangkan. Sayangnya, penggunaan obat inilah yang bisa memicu sel-sel di pembuluh menjadi abnormal.
Penyakit sarkoma kaposi adalah jenis kanker yang dapat menyerang siapa pun. Berdasarkan data Globocan 2018, kasus baru sarkoma kaposi mencapai 91 orang dengan angka kematian sebanyak 63 orang.
Gejala sarkoma kaposi sangat beragam, tetapi yang umumnya muncul adalah:
Lesi adalah jaringan abnormal pada kulit. Awalnya, penyakit ini menimbulkan lesi yang berupa bintik-bintik berwarna ungu, merah, atau cokelat. Jika diperhatikan lesi bisa berupa bercak, yakni rata di kulit atau tidak menimbulkan benjolan.
Bisa juga sedikit menonjol ke atas dan ini disebut plak. Kadang juga berbentuk benjolan yang terlihat jelas dan ini disebut dengan nodul. Paling sering lesi ini muncul di area kaki atau wajah. Akan tetapi, bisa juga muncul di area lain seperti selangkangan.
Munculnya lesi bisa menyebabkan aliran cairan di area tertentu menjadi terhambat. Akibatnya, pembengkakan akan terjadi disertai rasa nyeri yang parah. Umumnya, gejala sarkoma kaposi ini terjadi pada lesi kaki dan selangkangan.
Lesi yang muncul tidak hanya pada kaki atau wajah saja. Lesi ini juga bisa muncul di area selaput lendir (mukosa), seperti di dalam mulut, tenggorokan, area luar mata dan bagian dalam kelopak mata. Meskipun begitu, lesi ini biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri maupun gatal.
Lesi juga bisa muncul di paru-paru dan dapat menyumbat sebagian jalan pernapasan sehingga menimbulkan gejala sesak napas. Lesi yang terbentuk di lapisan perut atau usus, bisa menimbulkan gejala sakit perut dan diare.
Lesi yang muncul kadang bisa juga berdarah. Jika lesi ada di dalam paru-paru, maka akan menyebabkan batuk darah dan sesak napas. Sementara jika lesi ada di area sistem pencernaan, feses kan menjadi hitam, berlendir, atau terdapat bercak darah di sekitarnya.
Perdarahan internal ini jika tidak diatasi seiring waktu dapat menyebabkan anemia (jumlah sel darah merah yang rendah). Akibatnya, Anda akan merasakan tubuh mudah sekali lelah dan sering kali sesak napas.
Segera periksa ke dokter, jika Anda mengalami gejala kanker yang disebutkan di atas. Apalagi jika Anda tidak tahu penyebab pasti dan kondisi juga tidak membaik setelah diobati.
Setiap orang mungkin mengalami gejala berbeda, yang tidak tercantum pada penjelasan di atas. Konsultasikan lebih lanjut mengenai gejala yang mengkhawatirkan ini pada dokter.
Penyebab kaposi sarkoma adalah infeksi virus, seperti human herpesvirus 8 (HHV8). Virus ini masih satu keluarga dengan virus Epstein-Barr, yang menyebabkan mononukleosis menular dan terkait dengan beberapa jenis kanker, salah satunya kanker nasofaring.
Pada kanker ini, sel yang melapisi pembuluh darah dan pembuluh limfatik (sel endotel) terinfeksi oleh virus. Kemudian, virus masuk ke dalam gen dalam sel dan menyebabkan kerusakan sehingga membuat sel membelah terlalu banyak dan tidak mati. Sel yang abnormal inilah yang nantinya akan menyebabkan penyakit kanker.
Meskipun penyebab sarkoma kaposi tidak diketahui secara pasti, ilmuwan menemukan beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakitnya, seperti:
Umumnya hal ini berkaitan erat dengan orang yang terinfeksi HIV/AIDS, menjalani transplantasi organ, atau usia lanjut.
Infeksi human herpesvirus 8 (HHV8) lebih sering terjadi pada pria yang melakukan hubungan seks dengan pria. Bisa juga menular ketika melakukan hubungan seks oral atau vaginal tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi HHV8.
Wanita hamil yang terinfeksi HHV8 bisa menularkan virus tersebut ke janin dalam kandungannya saat dilahirkan lewat cairan vagina.
Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.
Adanya lesi pada kulit memang menjadi gejala dari sarkoma kaposi. Akan tetapi, menegakkan diagnosis penyakit kanker ini tidak hanya dilihat dari gejalanya saja. Pasalnya, ada masalah kesehatan lain yang juga menimbulkan gejala serupa.
Oleh karena itulah, dokter akan meminta Anda menjalani serangkaian tes kesehatan untuk memantapkan diagnosis kanker sarkoma kaposi, yaitu:
Pada tes ini, dokter akan melihat kondisi lesi Anda. Dokter juga akan menanyakan gejala lain yang Anda rasakan sekaligus melihat riwayat kesehatan Anda dan keluarga.
Lesi pada lapisan perut dan usus menimbulkan BAB berdarah. Guna memastikan gejala tersebut kanker atau bukan, tes feses perlu dilakukan.
Tes pencitraan ini dapat membantu dokter untuk melihat kelainan pada sel-sel pembuluh darah di paru-paru.
Tes ini menggunakan tabung tipis (endoskopi) yang dimasukkan melalui mulut Anda untuk memeriksa kerongkongan, lambung, dan bagian pertama usus kecil Anda. Jika dokter Anda mencurigai adanya kelainan, biopsi jaringan yang terkena akan dilakukan untuk memastikan penyakitnya.
Dalam tes ini, tabung tipis (bronkoskop) dimasukkan melalui hidung atau mulut ke paru-paru Anda untuk melihat lapisannya dan mengambil sampel dari area abnormal.
Dalam tes ini, tabung tipis (kolonoskop) dilewatkan melalui rektum dan dimasukkan ke dalam usus besar untuk memeriksa dinding organ-organ ini. Kelainan yang menunjukkan kanker pada usus juga dapat dibiopsi selama kolonoskopi.
Pengobatan penyakit kanker ini disesuaikan dengan tipe kanker, jumlah lesi, dan kesehatan tubuh pasien secara menyeluruh. Namun secara umum, cara mengobati kanker pad pembuluh darah dan pembuluh limfa yang direkomendasikan dokter adalah:
Pengobatan sarkoma kaposi terkait HIV adalah minum obat HIV yang dikenal sebagai terapi antiretroviral kombinasi (cART).
Tujuannya untuk mencegah HIV semakin memburuk dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga kadar HHV-8 dalam tubuh dapat berkurang. Pada beberapa kasus, orang yang menjalani perawatan ini juga perlu mengikuti kemoterapi atau minum interferon.
Kanker ini umumnya menimbulkan lesi di area kaki dan tungkai bawah dengan waktu penyebaran yang cukup lambat. Biasanya, orang dengan sarkoma kaposi klasik akan menjalani pengobatan berupa radioterapi.
Terapi radiasi dipancarkan langsung pada area yang terkena. Pada beberapa kasus, cryotherapy (pembekuan) atau operasi kecil juga dapat digunakan untuk menghilangkan lesi kulit.
Pengobatan untuk sarkoma kaposi jenis endemik Afrika yang paling utamanya adalah menjalani pengobatan HIV. Pada beberapa kasus, pasien mungkin direkomendasikan menjalani kemoterapi atau radioterapi.
Ketika penyakit kanker sarkoma kaposi ini terdeteksi setelah transplantasi dilakukan, penggunaan obat imunosupresan dapat dikurangi atau diganti. Jika kanker masih saja berkembang, kemoterapi dan radioterapi perlu dilakukan.
Selain pengobatan dokter, perawatan rumahan juga perlu diterapkan pengidap sarkoma kaposi, yakni memperbaiki gaya hidup yang sesuai untuk pasien kanker.
Perubahan gaya hidup ini meliputi berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, menerapkan diet kanker, olahraga, dan tentunya menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim.
Di samping itu, Anda juga perlu menjaga kebersihan area kulit yang terdapat lesi agar tidak menimbulkan infeksi. Anda harus melakukan konsultasi lebih lanjut pada dokter jika ingin menjalani pengobatan alternatif atau menggunakan obat-obatan herbal.
Cara mencegah penyakit kanker jenis sarkoma kaposi adalah dengan menurunkan peluang Anda terinfeksi virus HHV8, maupun virus lain yang meningkatkan risikonya. Lebih jelasnya, tindakan pencegahan yang bisa Anda lakukan meliputi:
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
What is Kaposi sarcoma? American Cancer Society | Information and Resources about for Cancer: Breast, Colon, Lung, Prostate, Skin. https://www.cancer.org/cancer/kaposi-sarcoma/about/what-is-kaposi-sarcoma.html [Accessed on September 10th, 2020]
Cancer in Indonesia. Global Cancer Observatory. https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf [Accessed on September 10th, 2020]
Kaposi’s sarcoma – Overview – Mayo Clinic. (2018, May 26). Mayo Clinic – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/kaposis-sarcoma/cdc-20387726 [Accessed on September 10th, 2020]
Can Kaposi sarcoma be prevented?. American Cancer Society | Information and Resources about for Cancer: Breast, Colon, Lung, Prostate, Skin. https://www.cancer.org/cancer/kaposi-sarcoma/causes-risks-prevention/prevention.html [Accessed on September 10th, 2020]
Signs and symptoms of Kaposi sarcoma. American Cancer Society | Information and Resources about for Cancer: Breast, Colon, Lung, Prostate, Skin. https://www.cancer.org/cancer/kaposi-sarcoma/detection-diagnosis-staging/signs-symptoms.html [Accessed on September 10th, 2020]
What causes Kaposi sarcoma? . American Cancer Society | Information and Resources about for Cancer: Breast, Colon, Lung, Prostate, Skin. https://www.cancer.org/cancer/kaposi-sarcoma/causes-risks-prevention/what-causes.html [Accessed on September 10th, 2020]
Kaposi’s sarcoma – NHS. (2017, October 18). nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/kaposis-sarcoma/ [Accessed on September 10th, 2020]
Versi Terbaru
05/01/2022
Ditulis oleh Aprinda Puji
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
Diperbarui oleh: Nanda Saputri