Cyberbullying sudah fenomena yang sering terjadi pada era teknologi seperti sekarang. Dampak perundungan di dunia maya ini juga tak kalah mengerikan. Pada beberapa kasus, korban bahkan memilih untuk mengakhiri hidup karena perundungan yang diterima.
Cyberbullying sudah fenomena yang sering terjadi pada era teknologi seperti sekarang. Dampak perundungan di dunia maya ini juga tak kalah mengerikan. Pada beberapa kasus, korban bahkan memilih untuk mengakhiri hidup karena perundungan yang diterima.


Cyberbullying adalah tindakan perundungan yang terjadi di dunia maya. Umumnya, tindakan ini terjadi di media sosial, game online, dan berbagai macam platform yang menyediakan kolom untuk chatting.
Menurut penelitian berjudul A Majority of Teens Have Experienced Some Form of Cyberbullying, ditemukan bahwa 59% remaja yang menggunakan internet pernah menjadi korban cyberbullying. Angka ini lebih besar dari korban berusia dewasa sebesar 33 persen.
Beberapa contoh perundungan yang sering terjadi di dunia maya, di antaranya:
https://hellosehat.com/parenting/remaja/kesehatan-mental-remaja/bullying-pada-anak-remaja/
Beberapa faktor dapat menjadi penyebab cyberbullying. Tindakan ini umumnya muncul karena adanya pengaruh dari lingkungan, baik di rumah, sekolah, atau bermain.
Sejumlah faktor yang bisa menjadi penyebab bullying di dunia maya, di antaranya:

Dampak cyberbullying sama buruknya dengan perundungan di dunia nyata. Dalam beberapa kasus, efek yang ditimbulkan bahkan lebih parah.
Bahaya cyberbullying tidak hanya berkaitan dengan gangguan mental, tapi juga bisa berkembang ke arah fisik.
Menurut studi lama terbitan Pakistan Journal Of Medical Sciences, korban perundungan setidaknya memiliki pikiran untuk bunuh diri sebanyak 2 hingga 9 kali.
Sementara itu, penelitian pada 150.000 anak muda di 30 negara yang dipimpin oleh Profesor Ann John dari Swansea University Medical School, Wales, menyoroti bahaya cyberbullying.
Tindakan ini tidak hanya korban, tetapi juga pelaku yang biasanya terjadi pada anak-anak muda di bawah 25 tahun.
Hasil penelitian menyatakan bahwa anak-anak yang menjadi korban cyberbullying lebih rentan untuk menyakiti diri sendiri hingga melakukan aksi bunuh diri.
Sementara mereka yang berperan sebagai pelaku, 20% berisiko lebih tinggi memiliki pikiran untuk membunuh dan melakukan percobaan bunuh diri.
https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/pola-asuh-mencegah-bullying/
Berikut ini sejumlah dampak perundungan di dunia maya yang perlu diwaspadai.

Melihat dampak yang mungkin ditimbulkan, tindakan cyberbullying dalam bentuk apa pun tidak dapat ditoleransi.
Jika Anda menyaksikan bullying atau menjadi salah satu korbannya, beberapa tindakan ini bisa dilakukan untuk mengatasi perundungan di dunia maya.
Jika tindakan perundungan yang diterima mulai memengaruhi kesehatan mental, konsultasikan kondisi Anda ke dokter. Langkah ini penting dilakukan untuk mencegah kondisi Anda bertambah parah.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka menjadi pelaku perundungan di dunia maya. Beberapa orang berpikir, tindakan perundungan yang dilakukan hanyalah bagian dari candaan.
Candaan yang baik tentu tidak akan menyakiti hati orang lain. Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan agar tidak menjadi pelaku cyberbullying.
Cyberbullying adalah tindakan yang tidak dapat ditoleransi. Apabila Anda menjadi salah satu korban, jangan takut untuk melakukan perlawanan.
Segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter jika perundungan yang dialami mulai memengaruhi kondisi fisik dan mental.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
John, A., Glendenning, A., Marchant, A., Montgomery, P., Stewart, A., & Wood, S. et al. (2018). Self-Harm, Suicidal Behaviours, and Cyberbullying in Children and Young People: Systematic Review. Journal Of Medical Internet Research, 20(4), e129. doi: 10.2196/jmir.9044
Versi Terbaru
31/10/2022
Ditulis oleh Bayu Galih Permana
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Reikha Pratiwi