Fobia dan trauma sama-sama menimbulkan rasa cemas dan juga takut. Kedua kondisi ini juga sama-sama menimbulkan kegelisahan yang benar-benar tidak nyaman. Lantas, bagaimana cara membedakannya?
Fobia dan trauma sama-sama menimbulkan rasa cemas dan juga takut. Kedua kondisi ini juga sama-sama menimbulkan kegelisahan yang benar-benar tidak nyaman. Lantas, bagaimana cara membedakannya?

Fobia adalah reaksi ketakutan berlebih, tidak terkendali, dan tidak masuk akal disertai dengan keinginan kuat untuk menghindari benda, orang, aktivitas, tempat, dan situasi tertentu. Orang dengan fobia biasanya menyadari betul bahwa ketakutannya tidak masuk akal tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengatasinya.
Fobia biasanya diakibatkan oleh kejadian tertentu yang akhirnya memunculkan ketakutan berlebih di kemudian hari. Namun, tak hanya itu, faktor genetik dan lingkungan juga dapat menyebabkan seseorang mengalami fobia.
Dikuti dari American Psychological Association, trauma adalah respon emosional terhadap berbagai peristiwa yang menakutkan seperti kecelakaan, kekerasan, pemerkosaan, atau bencana alam yang pernah dialaminya. Biasanya kondisi ini langsung dialami tepat setelah kejadian.
Trauma menimbulkan efek dan reaksi jangka panjang seperti emosi yang tidak dapat diprediksi, bayangan akan kejadian masa lalu yang menakutkan, dan gejala fisik seperti sakit kepala hingga mual. Orang yang mengalami trauma tak jarang mengalami kesulitan untuk melanjutkan hidupnya kembali normal seperti sedia kala.

Meskipun sama-sama menyebabkan kecemasan dan ketakutan berlebih, fobia dan trauma memiliki beberapa perbedaan yang cukup mendasar.
Meskipun fobia dan trauma sekilas terlihat mirip, tetap ada beberapa perbedaan yang mendasarinya.
Meskipun penyebab dan gejala trauma secara beragam, tetapi ada beberapa gejala dasar yang bisa Anda perhatikan. Orang yang memiliki pengalaman traumatis akan tampak terguncang dan kehilangan arah. Mereka kemungkinan tidak menanggapi percakapan seperti yang seharusnya. Selain itu, korban trauma biasanya mengalami kecemasan yang berlebih hampir di sepanjang waktu.
Sedangkan pada fobia, gejala tersebut tidak muncul terus menerus, melainkan hanya pada saat seseorang mengalami situasi atau menemui sesuatu hal yang dianggap fobia.
Orang yang fobia terhadap sesuatu hanya akan mengalami berbagai gejalanya jika melakukan kontak dengan sumber fobia. Pada sebagian orang yang mengalami fobia cukup parah, hanya dengan memikirkan sumber fobia bahkan dapat membuatnya merasa panik dan ketakutan.
Sementara pada trauma, biasanya kenangan dan pikiran ini selalu melekat tanpa bisa dilepaskan. Setiap hari Anda bisa terbayang-bayang kejadian buruk yang pernah Anda alami dan akhirnya selalu diselimuti ketakutan serta kecemasan sehingga kualitas hidup Anda pun menurun.
Namun, berhadapan langsung dengan kejadian yang mengingatkan Anda pada trauma akan memperparah gejala yang akan muncul.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Trauma
http://www.apa.org/topics/trauma/ accessed on September 2018
Coping with Emotional and Psychological Trauma
https://www.helpguide.org/articles/ptsd-trauma/coping-with-emotional-and-psychological-trauma.htm accessed on September 2018
Phobia
https://www.nhs.uk/conditions/phobias/ accessed on September 2018
Trauma Symptoms, Causes and Effects
https://www.psychguides.com/guides/trauma-symptoms-causes-and-effects/ accessed on September 2018
Versi Terbaru
14/09/2018
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
Diperbarui oleh: Irene Anindyaputri