Anda tentu butuh tidur cukup dan mood yang baik. Selain mempraktikkan kebiasaan tidur yang baik dengan sleep hygiene dan cara mengusir stres yang efektif, Anda juga bisa terus semangat dengan rutin makan makanan dengan asam amino triptofan.
Anda tentu butuh tidur cukup dan mood yang baik. Selain mempraktikkan kebiasaan tidur yang baik dengan sleep hygiene dan cara mengusir stres yang efektif, Anda juga bisa terus semangat dengan rutin makan makanan dengan asam amino triptofan.

Triptofan adalah jenis asam amino yang banyak ditemukan pada makanan berprotein. Di dalam tubuh, asam amino triptofan digunakan sebagai bagian penting pembentuk protein dan diperlukan dalam proses metabolisme.
Selain triptofan, asam amino ini dikenal juga dengan L-tryptophan, L-tryptophane, L-triptofano, L-2-amino-3- (indole-3-yl) asam propionat atau L-trypt.
Triptofan kemudian diubah menjadi molekul yang disebut 5-HTP (5-hydroxytryptophan) untuk digunakan membuat hormon serotonin dan melatonin dalam otak. Dua hormon ini berhubungan erat dengan suasana hati dan kualitas tidur.
Setelah triptofan dipecah menjadi 5-HTP (5-hydroxytryptophan), serotonin akan dibentuk. Serotonin merupakan hormon yang dapat memberikan Anda perasaan nyaman, senang, dan mengurangi stres.
Pengaruh triptofan pada suasana hati juga berhubungan dengan beberapa kondisi medis, seperti depresi dan gangguan kecemasan.
Penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang mengalami depresi memiliki kadar triptofan yang lebih rendah dibandingkan orang normal. Mereka juga jadi mudah cemas, gelisah, cepat marah, agresif, dan impulsif.
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa suplemen triptofan dan 5-HTP dapat bekerja sebaik obat antidepresan yang diresepkan dokter, seperti fluvoxamine (Luvox).
Setelah dibentuk, serotonin akan diubah menjadi molekul penting lainnya, yaitu melatonin. Melatonin yaitu hormon yang mengatur siklus alami tubuh untuk bangun dan tidur.
Hormon melatonin membuat Anda tidur lebih nyenyak dan bangun lebih fresh. Siklus bangun dan tidur yang sehat ini bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan metabolisme tubuh.
Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang makan sereal dengan kandungan triptofan saat sarapan dan makan malam, lebih cepat tidur dan tidur lebih nyenyak dibandingkan ketika makan sereal biasa.
Selain memengaruhi produksi hormon di otak, triptofan juga meningkatkan fungsi otak Anda jadi lebih baik.
https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/8-makanan-untuk-umur-panjang/
Asam amino yang bermanfaat ini dapat Anda temukan dengan mudah pada berbagai makan berprotein. Makanan kaya triptofan antara lain telur, ikan salmon, produk susu, kacang kenari, kentang, gandum, buah pisang, dan daging merah.
Selain makanan, ada suplemen khusus yang dirancang khusus mengandung triptofan. Namun, penggunaan suplemen ini tentu tidak boleh sembarang.
Terlalu banyak kadar triptofan dalam tubuh dapat menimbulkan mual, pusing, keringat berlebihan, badan gemetaran, linglung (delirium), dan rasa gelisah.
Biasanya, efek samping ini akan muncul jika suplemen triptofan digunakan bersamaan dengan obat antidepresan. Untuk itu, lakukan konsultasi pada dokter sebelum Anda menggunakan suplemen asam amino triptofan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Tryptophan’s Possible Effects for Your Health. https://articles.mercola.com/vitamins-supplements/tryptophan.aspx. Accessed on January 15th, 2019.
Get More Tryptophan for Better Sleep, Moods & Fewer Headaches. https://draxe.com/tryptophan/. Accessed on January 15th, 2019.
How Tryptophan Boosts Your Sleep Quality and Mood. https://www.healthline.com/nutrition/tryptophan. Accessed on January 15th, 2019.
Tryptophan-enriched cereal intake improves nocturnal sleep, melatonin, serotonin, and total antioxidant capacity levels and mood in elderly humans. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22622709. Accessed on January 15th, 2019.
Versi Terbaru
05/07/2021
Ditulis oleh Aprinda Puji
Ditinjau secara medis oleh dr. Yusra Firdaus
Diperbarui oleh: Abduraafi Andrian
Ditinjau secara medis oleh
dr. Yusra Firdaus