backup og meta

Yuk, Kenali 7 Manfaat Polenta (Bubur Jagung) Bagi Kesehatan

Polenta adalah bubur jagung yang berasal dari Italia. Tekstur polenta berbeda-beda, tergantung dari lama waktu memasak dan berapa lama waktu sebelum disajikan. Jika disajikan segera setelah dimasak, polenta masih panas dan bertekstur lembut. Jika sudah lama, polenta akan menjadi tebal, padat, dan bisa disajikan dalam bentuk diiris. Lalu apa saja keunggulan dan manfaat polenta bagi kesehatan? Simak penjelasannya di bawah ini, yuk.

Yuk, Kenali 7 Manfaat Polenta (Bubur Jagung) Bagi Kesehatan

1. Kaya akan karbohidrat kompleks

Karbohidrat kompleks adalah karbohidrat yang mengandung serat dan pati. Karbohidrat kompleks dipecah di dalam tubuh lebih lama daripada karbohidrat sederhana sehingga tidak menimbulkan naik-turunnya gula darah setelah makan. Kondisi tersebut membuat energi tersedia lebih lama dalam tubuh dan dapat mengontrol selera makan.

Jenis karbohidrat ini juga baik untuk orang dengan diabetes melitus sebab pelepasan glukosa (gula) ke dalam tubuh dilakukan secara pelan-pelan dan bisa mengontrol gula darah.

Karbohidrat kompleks juga membuat kenyang lebih lama, menjaga kesehatan sistem pencernaan, dan mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Inilah manfaat polenta yang sayang dilewatkan, terutama bagi Anda yang punya masalah pencernaan atau ingin mengurangi porsi makan. 

2. Polenta termasuk gluten-free

Bagi orang yang mencari makanan dengan bebas gluten, polenta dapat menjadi pilihan yang tepat. Polenta aman untuk dikonsumsi oleh orang dengan Celiac disease atau memiliki sensitivitas terhadap gluten. Namun, ketika Anda membeli produk polenta instan, harus tetap melihat kandungannya pada bungkus produk apakah ada zat tambahan tertentu atau tidak yang justru berbahaya bagi Anda.

Celiac disease adalah kondisi radang usus kronis yang dipicu oleh adanya konsumsi gluten masuk ke dalam usus. Gluten adalah sejenis protein yang ditemukan dalam produk turunan gandum.

Ketika orang dengan Celiac disease mengonsumsi produk yang mengandung gluten, maka akan membuat radang usus dan kondisi tersebut akan mengganggu penyerapan zat gizi dari makanan lainnya.

3. Mengandung vitamin A

Polenta mengandung vitamin A yang berfungsi penting dalam sistem kekebalan tubuh. Vitamin A menjaga epitel, yakni jaringan tubuh yang melapisi paru-paru, saluran pencernaan, lapisan pembuluh darah, dan kulit. Keberadaan vitamin A dalam epitel melindungi bakteri atau mikroorganisme penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh.

Vitamin A dibutuhkan dalam menjaga ketajaman penglihatan, terutama diperlukan oleh retina mata guna mengubah cahaya visual menjadi sinyal saraf ke otak.

4. Sumber karotenoid

Karotenoid adalah pigmen yang terdapat pada makanan nabati yang dapat diubah menjadi bentuk vitamin A. Asupan makanan mengandung karotenoid penting untuk tubuh karena karotenoid bekerja sebagai anioksidan melindungi sel-sel, jaringan, dan organ di tubuh melawan efek radikal bebas yang bisa berkontribusi pada terjadinya perkembangan kanker, penyakit jantung, dan penyakit mata.

Sebagian karotenoid diubah menjadi vitamin A dan memiliki fungsi menjaga sistem kekebalan tubuh, kesehatan mata, dan mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan.

5. Rendah lemak

Pada dasarnya, polenta merupakan makanan yang rendah akan lemak dan aman dikonsumsi untuk diet rendah lemak. Namun, itu semua tergantung bagaimana Anda mengolah polenta ini. Hindari menggunakan lemak jenuh tambahan dalam memasaknya seperti menggunkan mentega. Masak dengan lemak jenuh akhirnya membuat manfaat polenta berkurang. 

6. Mengandung mineral-mineral penting

Polenta mengandung mineral-mineral esensial yaitu kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, natrium, dan zink. Vitamin yang ditemukan dalam jumlah kecil pada polenta yakni vitamin B dan E. Mineral berguna salah satunya untuk menjaga kepadatan tulang dan menyeimbangkan kadar cairan dalam tubuh. 

7. Polenta mengandung protein

Komponen utama dalam polenta adalah karbohidrat, tapi polenta tetap mengandung protein. Protein ini berfungsi dalam banyak proses metabolisme dan pembentukan struktur tubuh di dalam tubuh. Protein juga berfungsi dalam pembentukan enzim, hormon, dan neurotransmitter. Keseimbangan cairan di dalam tubuh juga diatur oleh protein.

[embed-health-tool-bmr]

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Byrd-Bredbenner, Carol.,Beshgetoor, Donna.,Moe, Gaile.,Berning,Jacqueline. Wardlaw’s Perspectives in Nutrition 8th ed. New York: McGrawHill

Nutri-Facts. Tanpa Tahun. Carotenoids. [Online] Tersedia pada: http://www.nutri-facts.org/en_US/nutrients/carotenoids/health-functions.html (Diakses 27/11/2017)

Edelstein, Sari. 2011. Food, Cuisine, adnd Cultural Competency for Culinary, Hospotality, and Nutrition Professionals. Massachusetts: Jones and Bartlett Publishers

Gluten Intolerance Group. 2014. Gluten-Free Grains. [Online] Tersedia pada: https://www.gluten.org/wp-content/uploads/2015/06/EDU_GFGrains_6.8.2015.pdf (Diakses 27/11/2017)

Bascunan, KA., Vespas, MC., dan Araya, M. 2016. Celiac Disease: Understanding the Gluten-Free Diet. Eur J Nutr DOI 10.1007/s00394-016-1238-5 http://www.coacel.cl/sites/default/files/25._2016_bascunan_gfd_ejcn_0.pdf

US National Library of Medicine. Tanpa Tahun.Vitamin A. [Online] Tersedia pada: https://medlineplus.gov/ency/article/002400.htm (Diakses 27/11/2017)

Pierto, MaryAnn. 2017. What are the Nutritional Benefits of Polenta?. [Online] Tersedia pada: https://www.medicalnewstoday.com/articles/319798.php (Diakses 27/11/2017)

WebMD. Tanpa Tahun. Celiac Disease- Topic Overview. (Online] Tersedia pada: https://www.webmd.com/digestive-disorders/celiac-disease/celiac-disease-topic-overview#1 (Diakses 27/11/2017)

Versi Terbaru

21/12/2020

Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji

Ditinjau secara medis oleh dr. Yusra Firdaus

Diperbarui oleh: Ilham Aulia Fahmy


Artikel Terkait

10 Ide Resep Makan Siang Gluten Free

Kandungan dan Manfaat Nasi Jagung yang Kaya Serat


Ditinjau secara medis oleh

dr. Yusra Firdaus


Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji · Tanggal diperbarui 21/12/2020

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan