Asam salisilat adalah salah satu obat golongan keratolitik, yaitu obat-obatan yang bertindak sebagai agen pengelupas kulit. Obat ini berfungsi untuk menghilangkan sel-sel kulit mati serta menghaluskan permukaan kulit yang kasar.

Karena khasiatnya, asam salisilat kerap digunakan untuk menangani penyakit kulit yang menimbulkan sisik atau penumpukan kulit berlebih seperti psoriasis atau eksim (dermatitis atopik).
Obat bekerja dengan cara melembutkan keratin, protein pada struktur kulit manusia. Proses ini akan mengendurkan kulit bersisik yang kering sehingga lebih mudah terlepas.
Obat juga dapat bekerja sebagai agen anti-inflamasi, sehingga pemakaiannya sering dilakukan untuk mengatasi jerawat atau masalah peradangan kulit lainnya.
Berbagai masalah lain yang dapat diatasi dengan asam salisilat meliputi:
Umumnya, obat ini ditemui dalam bentuk topikal yang digunakan untuk pemakaian luar (dioles), bisa berwujud krim, gel, salep, larutan, atau sabun.
Penggunaan asam salisilat harus sesuai dengan arahan dokter atau instruksi yang tersedia dalam kemasan obat. Namun, obat ini biasanya digunakan dengan cara yang dijelaskan sebagai berikut.
Untuk menggunakannya, bersihkan terlebih dahulu area kulit yang terdampak, lalu oleskan obat sesuai dengan anjuran pada label kemasan atau anjuran dokter.
Bersihkan kulit, lalu kompres atau rendam area yang bermasalah dengan air selama lima menit, kemudian olesi kulit dengan gel asam salisilat.
Obat berbentuk plester kerap digunakan untuk mengatasi kutil, kapalan, dan mata ikan. Pertama, bersihkan kulit lalu rendam area yang terkena kondisi tersebut dengan air hangat selama lima menit untuk memudahkan pengangkatannya.
Kemudian tempel plester yang sudah digunting sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Plester yang ditempelkan harus diganti dengan yang baru setiap dua kali sehari.
Terkadang, ada pula plester yang harus digunakan sebelum tidur dan dibiarkan selama minimal 8 jam, lalu dilepas pada pagi harinya dan diganti setiap 24 jam sesuai kebutuhan. Ulangi hingga 12 minggu atau sampai penyakit menghilang.
Basahi rambut dan kulit kepala dengan air hangat. Oleskan obat secukupnya pada kepala hingga berbusa, lalu pijat kulit kepala selama dua atau tiga menit, bilas dengan air. Langkah ini dapat diulang sesuai kebutuhan.
Gunakan sabun seperti biasa, usapkan hingga berbusa lalu gosok sabun pada kulit atau area yang terkena dengan lembut. Bilas dengan air hangat.
Tuang larutan pada kapas, lalu seka area yang terkena penyakit dengan perlahan. Biarkan obat mengering dan jangan dibilas. Bila pemakaian dianjurkan dua kali, pastikan olesan yang pertama sudah kering sebelum kembali mengoleskan obat.
Perlu diketahui, Anda harus benar-benar menggunakan obat sesuai dengan aturan, tidak kurang dan tidak lebih, kecuali bila perubahan ini dianjurkan langsung dari dokter. Kondisi kulit setiap orang juga berbeda-beda, lama obat dalam menunjukkan khasiatnya mungkin akan berbeda pula.
Sebelum menggunakan obat asam salisilat, ada baiknya Anda memeriksakan kulit kepada dokter untuk memastikan bahwa penggunaan obat benar-benar aman.
Jangan berikan obat untuk anak-anak atau remaja yang sedang mengalami flu, demam, atau cacar air karena bisa menyebabkan sindrom reye.
Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan dan dijauhkan dari paparan cahaya langsung serta tempat yang lembab. Jangan disimpan di kamar mandi dan jangan pula membekukan obat ini.
Merek lain dari obat ini mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda. Perhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk atau tanyakan pada apoteker Anda. Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran pembuangan kecuali bila diinstruksikan. Buang produk ini bila masa berlakunya telah habis atau bila sudah tidak diperlukan lagi. Konsultasikan kepada apoteker mengenai bagaimana cara aman membuang produk Anda.
Informasi yang diberikan bukan pengganti saran medis. SELALU konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum menggunakan obat ini.
Dosis yang diberikan akan berbeda berantung pada kekuatan obat serta kondisi yang Anda miliki. Informasi di bawah ini hanya mencakup dosis rata-rata yang biasa digunakan.
Dosis orang dewasa untuk jerawat
Bantalan dengan 1% asam salisilat:
Bersihkan area kulit yang bermasalah, lalu oleskan pada bagian tersebut 2 – 3 kali setiap hari. Jika kulit menjadi semakin kering, kurangi frekuensi penggunaannya menjadi sehari sekali.
Dosis orang dewasa untuk gangguan dermatologis
Cuci dan keringkan area sepenuhnya. Gunakan secukupnya untuk menutup setiap kutil 1 – 2 kali setiap hari.
Gunakan pada area yang bermasalah dua kali setiap minggu. Diamkan pada luka atau kulit selama dua menit kemudian bilas. Ulang bila perlu.
Gunakan pada kulit yang bermasalah sekali setiap hari. Lembapkan area selama 5 menit sebelumnya jika mungkin. Tutup areanya saat malam. Cuci saat pagi.
Gunakan pada bagian kulit yang bermasalah sekali setiap hari. Lembapkan area selama 5 menit sebelumnya jika mungkin. Tutup areanya saat malam. Cuci saat pagi.
Seperti obat-obatan lain, asam salisilat dapat menimbulkan efek samping pada sebagian orang. Seringnya, efek samping ini cenderung ringan dan tidak membutuhkan penanganan khusus, seperti sensasi sengatan ringan dari pemakaian obat dengan konsentrasi yang lebih tinggi.
Anda juga perlu berhati-hati saat menggunakan obat ini. Pasalnya asam salisilat dapat mengiritasi atau membakar kulit yang sehat, sehingga Anda harus memastikan pengolesan obat hanya pada area yang terkena penyakit saja.
Segera hubungi dokter jika Anda mengalami hal-hal berikut:
Tidak semua orang mengalami efek samping ini. Mungkin ada beberapa efek samping yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran mengenai efek samping tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi pada dokter atau apoteker.
Sebelum menggunakan obat ini, pastikan Anda mengetahui hal-hal di bawah ini.
Belum ada penelitian yang memadai mengenai risiko penggunaan obat ini pada ibu hamil atau menyusui. Selalu konsultasikan kepada dokter untuk mempertimbangkan potensi manfaat dan risiko sebelum menggunakan obat ini.
Menurut Food and Drugs Administration (FDA), obat ini termasuk ke dalam kategori C berdasarkan kemungkinan risikonya untuk ibu hamil. Berikut referensi kategori risiko kehamilan menurut FDA.
Ada beberapa obat yang bila digunakan bersamaan dengan asam salisilat dapat menimbulkan interaksi. Interaksi ini dapat memengaruhi kinerja obat atau meningkatkan risiko efek samping. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Masih ada berbagai obat lainnya yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki pertanyaan seputar dampak penggunaan obat tertentu, silakan diskusikan dengan dokter.
Selain itu, jangan gunakan salah satu dari berbagai produk ini yang tidak boleh digunakan di atas area yang telah diolesi obat asam salisilat kecuali jika dianjurkan oleh dokter. Di antaranya adalah:
Pada kasus yang jarang terjadi, penggunaan asam salisilat yang terlalu banyak dapat menimbulkan keracunan. Gejala yang akan dirasakan meliputi:
Bila tanda-tanda ini terjadi, segera cari pertolongan medis dengan menghubungi penyedia layanan gawat darurat (119) atau pergi ke rumah sakit agar bisa langsung mendapatkan penanganan yang tepat.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Multum, C. (2019). Salicylic acid topical Uses, Side Effects & Warnings – Drugs.com. Retrieved from https://www.drugs.com/mtm/salicylic-acid-topical.html
Shiel Jr., W. Definition of Salicylic acid. Retrieved from https://www.rxlist.com/script/main/art.asp?articlekey=25386
Salicylic Acid. (2005). Dermnet NZ. Retrieved 13 October 2020, from https://dermnetnz.org/topics/salicylic-acid/
Salicylic Acid (Topical Route). (2020). Mayo Clinic. Retrieved 13 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/salicylic-acid-topical-route/description/drg-20066030
Versi Terbaru
12/01/2021
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)