Abses anal adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi pada kelenjar anal, menyebabkan terbentuknya nanah di sekitar anus.

Jenis abses anal yang paling umum adalah abses perianal, berupa bisul yang membengkak dan terasa sakit di sekitar anus. Jenis lain dari abses anal, yaitu abses perirectal terletak di jaringan yang lebih dalam, sehingga tidak terlalu terlihat.
Dikutip dari Harvard Health Publishing, kebanyakan abses anal tidak berhubungan dengan masalah kesehatan lainnya. Justru, kondisi ini dapat muncul dengan spontan, tanpa alasan yang jelas.
Kondisi ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.
Abses anal umum terjadi pada orang dewasa di antara usia 20 hingga 40 tahun. Pria lebih sering terkena kondisi ini dibandingkan dengan perempuan.
Sebagian besar abses anal terletak di dekat pembukaan anus dan jarang terletak di di dalam atau lebih tinggi dari saluran anus.
Gejala paling umum dari abses anal adalah nyeri tajam pada anus, terutama saat duduk. Tanda-tanda lainnya adalah iritasi pada anus, keluarnya nanah, dan konstipasi.
Apabila abses terletak lebih dalam, pasien dapat mengalami demam, menggigil, dan tidak enak badan. Kadang, demam hanyalah satu-satunya pertanda.
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.
Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.
Abses anal diperkirakan berkembang dari kelenjar di sekitar anus. Terkadang, abses perianal dapat berkembang dari kulit terinfeksi yang berdekatan dengan anus.
Kelenjar bisa menyumbat, biasanya mengarah ke infeksi bakteri. Ketika diisi dengan nanah, kelenjar mungkin meledak ke arah dalam dan melepaskan isi yang terinfeksi ke dalam ruang di sekitar dubur dan anus.
Inilah yang menyebabkan abses, atau pengumpulan nanah, di ruang-ruang di sekitar dubur atau anus. Kondisi ini dapat membesar dan menyebabkan rasa sakit, demam, hingga sulit buang air besar.
Beberapa orang memiliki kecenderungan untuk mengalami abses abal, termasuk mereka dengan kondisi berikut ini:
Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.
Pada kebanyakan kasus, evaluasi dengan pemeriksaan rektum digital cukup untuk diagnosis. Namun, beberapa pasien memerlukan tes lebih lanjut untuk melihat adanya kanker rektum, infeksi menular seksual, atau penyakit lainnya.
Setelah Anda mengutarakan gejala yang Anda alami, dokter akan menanyakan soal riwayat kesehatan dan gaya hidup Anda. Ini akan membantu dokter menilai masalah pada anus Anda, termasuk jika ada abses anal.
Tergantung dari gejalanya, dokter mungkin akan bertanya soal:
Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada perut Anda, diikuti dengan pemeriksaan luar dari area anal Anda. Dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan digital pada daerah rektum.
Biasanya, dokter juga akan melakukan anoskopi (menyisipkan alat seperti tabung ke dalam anus untuk melihat ke dalam) dan sigmoidoskopi (teleskop pendek untuk memeriksa rektum dan usus besar bagian bawah).
Abses anal kadang-kadang bisa mengering sendiri, meskipun selalu lebih aman bagi dokter untuk memeriksa masalahnya. Jika abses tidak membaik dengan sendirinya, dokter dapat melakukan prosedur operasi untuk mengatasi abses anus.
Paling baik untuk mengatasi abses anal sebelum meletus. Umumnya, abses anal dapat diatasi dengan bedah drainase menggunakan anestesi lokal. Kasus yang lebih parah dapat memerlukan rawat inap.
Setelah prosedur, pasien akan diberikan penawar rasa sakit dan antibiotik. Bagi orang yang sehat, antibiotik biasanya tidak diperlukan. Antibiotik mungkin diperlukan bagi sebagian orang, termasuk mereka yang menderita diabetes atau mengalami penurunan kekebalan tubuh.
Terkadang, operasi fistula dapat dilakukan bersamaan dengan operasi abses. Namun, fistula sering berkembang empat hingga enam minggu setelah abses terkuras.
Fistula mungkin tidak kunjung muncul hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Jadi, operasi fistula biasanya merupakan prosedur terpisah yang dapat dilakukan secara rawat jalan atau dengan rawat inap di rumah sakit.
Dikutip dari Web MD, Anda dapat merendam daerah yang terkena dengan air hangat, tiga atau empat kali sehari. Pelunak feses mungkin direkomendasikan dokter untuk meringankan ketidaknyamanan gerakan usus.
Dengan perawatan yang tepat, orang dengan abses anal dapat pulih total dalam jangka waktu yang pendek. Anda dapat mencegah abses anal dengan menggunakan kondom saat melakukan anal seks.
Selain itu, Anda juga bisa melakukan hal-hal di bawah ini:
Pada beberapa kasus, bayi dan balita dapat mengalami kondisi ini. Penggantian popok yang sering serta pembersihan yang benar selama penggantian popok dapat membantu mencegah celah dan abses anal.
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.
Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
How to Treat an Anal or Rectal Abscess. (2020). Retrieved 13 March 2020, from https://www.verywellhealth.com/perirectal-abscess-2328821
Cold, F., Health, E., Disease, H., Disease, L., Management, P., & Conditions, S. et al. (2020). Anal Abscess: Symptoms, Causes, and Treatments. Retrieved 13 March 2020, from https://www.webmd.com/a-to-z-guides/anal-abscess#1
Anal Abscess Symptoms, Treatment, Diagnosis & Causes. (2020). Retrieved 13 March 2020, from https://www.emedicinehealth.com/anal_abscess/article_em.htm
Publishing, H. (2020). Anal Disorders – Harvard Health. Retrieved 13 March 2020, from https://www.health.harvard.edu/a_to_z/anal-disorders-a-to-z
Versi Terbaru
08/01/2021
Ditulis oleh Fajarina Nurin
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Diperbarui oleh: Fajarina Nurin
Ditinjau secara medis oleh
dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)