Gastroptosis adalah kondisi yang ditandai dengan perpindahan perut ke bawah secara tidak normal. Hal ini mungkin terjadi akibat gaya suspensi diafragma, hati, dan perut yang tidak memadai.
Selain itu, masalah pada organ pencernaan ini bisa disebabkan oleh faktor tubuh seperti struktur perut yang berbentuk seperti ikan.

Penyakit ini merupakan bagian dari visceroptosis, kondisi yang cenderung dijumpai pada orang bertubuh kurus hingga memiliki tubuh lemah karena usia.
Gastroptosis umumnya memiliki gejala gangguan pencernaan yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Kabar baiknya, kondisi ini bukan penyakit yang membahayakan jiwa.
Gastroptosis merupakan penyakit cukup langka, tetapi lebih sering dijumpai pada wanita dibandingkan pria, terlepas dari berapa usianya.
Meski begitu, masalah ini bisa diatasi dengan mengurangi faktor risikonya. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.
Umumnya, gastroptosis ditandai dengan gejala gangguan pencernaan dan masalah lainnya, seperti:
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah pada dokter.
Bila Anda mengalami salah satu atau lebih gejala yang telah disebutkan atau memiliki pertanyaan apa saja, segera konsultasikan dengan dokter.
Tubuh setiap orang bereaksi dengan cara berbeda, sehingga lebih baik diskusikan dengan dokter terkait kondisi yang dialami.
Gastroptosis merupakan penyakit pencernaan yang lebih sering dialami oleh orang dewasa. Ada pun beberapa masalah kesehatan yang dapat menyebabkan masalah pada perut, yakni:
Pada saat tekanan di sekitar perut melemah, kemampuan tubuh untuk menahan organ dalam perut di tempatnya pun ikut menurun. Akibatnya, perut Anda mungkin akan merosot yang dikenal sebagai gastroptosis.
Hal tersebut dikarenakan otot dan lemak dibutuhkan untuk menahan perut agar tidak merosot. Sehingga, kekurangan lemak atau otot bisa menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami gastroptosis.
Itu sebabnya, orang yang menjalani program diet perlu memastikan bahwa mereka tidak kehilangan terlalu banyak lemak agar tidak menyebabkan masalah pencernaan ini.
Selain usia, sederet faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit ini antara lain:
Selain menjalani pemeriksaan fisik seperti riwayat kesehatan dan gejala yang dialami, dokter juga akan menyarankan Anda untuk menjalani tes tambahan.
Pemeriksaan gastroptosis ini umumnya tidak jauh berbeda dengan penyakit gastroparesis, yakni:
Perlu diingat pula bahwa gastroparesis dan gastrotopsis sangat mudah mengalami salah diagnosis karena termasuk penyakit yang langka.
Dahulu, pengobatan gastroptosis dapat dilakukan melalui bedah. Kini, operasi bedah masih menjadi pilihan alternatif dari masalah perut ini.
Meski begitu, para ahli menyarankan bahwa penyakit pencernaan ini sebenarnya bisa diatasi dengan mengobati penyebabnya, seperti:
Selain perawatan dari dokter, perubahan gaya hidup ternyata perlu dilakukan guna mendukung pengobatan, meliputi:
Gastroptosis merupakan penyakit yang cukup langka, sehingga ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Gastroptosis in Women That Just Don’t Gain Weight Eating. (n.d). Slism. Retrieved 29 April 2021, from https://slism.com/diet/gastroptosis-symptoms.html
Herbal Treatment for Gastroptosis. (n.d). Herbpathy. Retrieved 29 April 2021, from https://herbpathy.com/Herbal-Treatment-for-Gastroptosis-Cid5073
Christianakis, E., Bouchra, K., Koliatou, A., Paschalidis, N., & Filippou, D. (2009). Gastroparesis associated with gastroptosis presenting as a lower abdominal bulking mass in a child: a case report. Cases journal, 2, 184. https://doi.org/10.1186/1757-1626-2-184. Retrieved 29 April 2021.
Versi Terbaru
02/08/2021
Ditulis oleh Lika Aprilia Samiadi
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Nanda Saputri
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)