
Kusta alias lepra atau penyakit Morbus Hansen adalah infeksi menular kronis yang menyerang sistem saraf, kulit, selaput lendir hidung, dan mata.
Penyakit kulit ini merupakan penyakit tertua di dunia, kemunculannya sudah ada sejak tahun 600 sebelum Masehi. Dahulu, penyakit ini dipercaya sebagai kutukan dari Tuhan dan sering dihubungkan dengan dosa.
Karena dapat menyebabkan kecacatan, mutilasi (terputusnya salah satu anggota gerak seperti jari), luka borok, dan kerusakan lainnya, kusta menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti terutama pada zaman kuno.
Lepra bisa sembuh total jika penderitanya mendapatkan pengobatan yang tepat. Pasien juga bisa menjalankan kembali kehidupan normalnya, seperti bekerja, bersekolah, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.
Di Indonesia, ada dua jenis penyakit lepra yang umum ditemukan, di antaranya:
Setiap dua menit seseorang terdiagnosis penyakit lepra. Menurut laporan organisasi kesehatan dunia WHO pada akhir 2015, tercatat 176 ribu kasus penyakit kusta di 138 negara termasuk Indonesia.
Kusta termasuk penyakit yang umum di banyak negara, terutama yang beriklim tropis atau subtropis. Penyakit ini dapat dialami oleh semua kalangan, tanpa memandang jenis kelamin maupun usia.
Secara umum, gejala paling khas dari penyakit ini adalah sensasi mati rasa atau baal pada area kulit yang menampakkan bercak. Sensasi mati rasa ini menyebabkan penderitannya tidak bisa merasakan perubahan suhu.
Akibatnya, mereka yang mengalami penyakit ini kehilangan sensasi sentuhan dan rasa sakit pada kulitnya. Hal ini juga yang membuat penderita tidak merasakan sakit sekalipun jari mereka putus.
Selain yang sudah disebutkan di atas, berikut beberapa tanda dan gejala kusta lainnya yang harus Anda wasapdai.
Seringnya, gejala penyakit ini menyerupai penyakit lain sehingga menyebabkan terlambatnya mendapatkan pengobatan yang tepat. Beberapa penyakit yang gejalanya mirip dengan kusta adalah psoriasis, panu, kadas, vitiligo, dan masih banyak lagi.
Jika Anda merasa memiliki salah satu atau beberapa gejala kusta seperti yang sudah tercantum di atas, segeralah memeriksakan diri ke dokter.
Ingat, setiap tubuh orang berfungsi berbeda satu sama lain. Bila Anda khawatir akan gejala tertentu, silakan konsultasikan kepada dokter.
Penyakit kulit menular ini disebabkan oleh infeksi bakteri basilus, Mycobacterium leprae (M. leprae). Bakteri M. leprae sendiri berkembang biak dengan sangat lambat dan periode inkubasi penyakit diperkirakan sekitar 5 tahun.
Hingga saat ini, para ahli belum begitu mengerti bagaimana kusta menyebar. Namun, para ahli menduga bahwa penyakit ini dapat ditularkan dari percikan air liur orang yang terinfeksi saat sedang bersin, batuk, atau berbicara.
Bakteri yang terkandung dalam percikan ini akan masuk ke dalam hidung dan organ pernapasan lainnya. Kemudian, bakteri bergerak masuk ke dalam sel-sel saraf.
Karena senang dengan tempat yang bersuhu dingin, bakteri akan masuk ke sel-sel saraf kulit di sekitar selangkangan atau kulit kepala yang bersuhu lebih rendah.
Sel saraf tersebut pun akan menjadi rumah bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri ini biasanya memerlukan waktu 12 – 14 hari untuk membelah diri. Pada tahap ini, seseorang yang terinfeksi belum memunculkan gejala kusta.
Nantinya, ketika bakteri sudah berkembang semakin banyak, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan sel darah putih untuk melawan bakteri. Barulah tubuh mulai merasakan gejala seperti mati rasa pada kulit.
Meski merupakan penyakit menular kronis, beberapa orang mungkin tidak pernah terkena penyakit ini sekalipun mereka terpapar bakteri.
Pasalnya, sekitar 95 persen populasi dunia memiliki kekebalan alami terhadap kusta. Sedangkan hanya lima persen yang memiliki kemungkinan tertular kusta.
Dari lima persen tersebut, sebanyak 70 persen orang akan sembuh sendiri. Hanya sisa 30 persen yang benar-benar terkena penyakit kusta dan harus mendapat penanganan medis.
Penyakit ini memang bisa menyerang siapa saja. Namun, faktor risiko terbesar untuk tertular penyakit ini adalah melakukan kontak langsung dalam waktu lama dengan orang yang terinfeksi.
Mereka yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk, seperi rumah yang tidak memadai dan tidak memiliki sumber air bersih juga berisiko terkena penyakit ini.
Selain itu, asupan gizi yang buruk (malnutrisi) serta sistem imun yang lemah akibat kondisi medis tertentu seperti HIV juga bisa meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini.
Lepra yang dibiarkan tanpa pengobatan atau bahkan terlambat terdeksi bisa menyebabkan cacat fisik yang bersifat sementara maupun selamanya.
Menurut Pedoman Nasional Program Pengendalian Kusta yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, cacat fisik akibat penyakit ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
Selain cacat fisik, orang-orang dengan penyakit ini juga berisiko tinggi terhadap:
Hal pertama yang bisa dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit ini adalah dengan menanyakan seputar riwayat medis dan mengecek kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh. Pemeriksaan fisik maupun laboratorium juga diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Bila kemungkinan Anda menderita kusta tinggi, dokter akan melakukan pemeriksaan bakterioskopik. Itu adalah prosedur mengambil dan memeriksa sampel jaringan kulit di bawah mikroskop untuk melihat adanya bakteri M. Lepra.
Pemeriksaan lainnya meliputi histopatologis yang merupakan prosedur dengan tujuan melihat perubahan jaringan karena infeksi dan pemeriksaan serologis untuk mengetahui reaksi antibodi pada infeksi.
Pada kusta pausi basiler, tidak ada bakteri yang akan terdeteksi. Sebaliknya, bakteri mungkin akan ditemukan di tes hapusan kulit dari orang dengan kusta multi basiler.
Guna mengatasi penyakit lepra, dokter biasanya akan melakukan terapi obat kombinasi atau multi-drug therapy (MDT). Pengobatan ini umumnya dilakukan dalam kurung waktu enam bulan hingga 1 – 2 tahun tergantung jenis lepra dan keparahannya.
Beberapa obat-obatan yang sering diresepkan dokter dalam melakukan terapi MDT di antaranya adalah sebagai berikut.
Dalam kasus tertentu, pembedahan juga bisa dilakukan sebagai proses lanjutan setelah pengobatan antibiotik. Pembedahan ini dilakukan untuk membantu memperbaiki saraf yang rusak atau bentuk tubuh penderita yang cacat, supaya penderita bisa beraktivitas normal seperti sedia kala.
Ya, penyakit kusta bisa sembuh total. Asalkan Anda selalu mengingat dua kunci utama dalam pengobatan penyakit ini, yaitu tidak terlambat memeriksakan diri ke dokter dan disiplin saat menjalani pengobatan.
Selain mencegah komplikasi, penanganan lebih dini juga akan mencegah kerusakan jaringan dalam tubuh. Oleh karena itu, selalu perhatikan kondisi tubuh Anda. Bila mulai merasakan gejala kusta, segera periksa ke dokter.
Setelah didiagnosis dan mendapatkan obat pun Anda harus benar-benar mematuhi aturan yang diberikan dokter. Minumlah obat di waktu yang tepat secara rutin dan jangan menghentikan konsumsinya tanpa ijin dari dokter.
Sering lupa minum obat atau menghentikan pengobatan akan membuat bakteri terus berkembang biak dan menjadi kebal. Bakteri yang semakin kuat ini juga dapat berpindah dan menginfeksi tubuh orang lain dengan mudah.
Dengan kata lain, orang-orang terdekat Anda bisa saja tertular penyakit ini di kemudian hari bila Anda tidak rutin minum obat.
Selain harus minum obat secara teratur, orang dengan kusta juga harus memperhatikan asupan nutrisinya. Hal ini dilakukan untuk membantu mempercepat penyembuhan kusta.
Di bawah ini adalah beberapa pilihan nutrisi yang harus dipenuhi oleh orang dengan penyakit lepra.
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah penyakit kulit Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Leprosy. (2019). World Health Organization. Retireved 24 September 2020, from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs101/en/
Leprosy: Background, Pathophysiology, Epidemiology. (2020) MedScape. Retrieved 24 September 2020, from http://emedicine.medscape.com/article/220455-overview#a4.
Hansen’s Disease (Leprocy). (2017). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 24 September 2020, from https://www.cdc.gov/leprosy/index.html
Leprosy (Hansen’s Disease). (2015). National Institute of Allergy and Infectious Diseases. Retrieved 24 September 2020, from https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/leprosy-hansens-disease
Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Program Pengendalian Kusta. Kementerian Kesehatan RI. 2012.
Vitamin A. (2020). Health Professional Fact Sheet. Retrieved 23 October 2020, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminA-HealthProfessional/
Zinc. (2020). Health Professional Fact Sheet. Retrieved 23 October 2020, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/Zinc-HealthProfessional/
Versi Terbaru
27/12/2021
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Nanda Saputri
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)