Kuku adalah bagian tubuh yang terbuat dari keratin, yakni sejenis protein yang bisa dijumpai pada rambut.

Umumnya, kuku membutuhkan sekitar enam bulan agar bisa tumbuh memenuhi permukaan jari. Bila kuku terdiri dari banyak lapisan keras dan mengelupas, kekuatannya akan melemah dan terbelah dua.
Kondisi ini dikenal dalam dunia kesehatan sebagai onychoschizia, alias ganti kuku atau kuku yang mengelupas.
Ganti kuku dapat terjadi pada siapa saja, terlepas dari usia dan jenis kelamin. Namun, kondisi ini bisa dicegah dengan menghindari sejumlah faktor risiko.
Diskusikan dengan dokter terkait faktor risiko yang dapat menyebabkan kuku mengelupas.

Umumnya, ganti kuku tidak memicu sejumlah gejala yang berbahaya. Namun, beberapa orang mengaku bahwa kuku yang mengelupas terkadang disertai dengan gejala lainnya.
Berikut ini beberapa gejala tambahan ganti kuku berdasarkan penyebabnya.
Kuku yang mengelupas biasanya jarang membutuhkan penanganan medis segera. Namun, ganti kuku yang disertai dengan rasa nyeri atau perdarahan selain ketika mengelupas mungkin memerlukan pengobatan dari dokter.
Jika Anda mengalaminya, segera datangi rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penangan yang tepat.

Umumnya, perubahan abnormal pada kuku merupakan salah satu pertanda bahwa tubuh tengah mengalami gangguan tertentu.
Berikut ini sejumlah kondisi yang mungkin menjadi penyebab ganti kuku.
Trauma atau cedera pada kuku bisa membuat lapisa kuku terlepas. Ada pun berbagai aktivitas yang mungkin memicu cedera dan menyebabkan pergantian kuku antara lain:
Kuku yang sering terpapar bahan kimia, seperti cairan pembersih kamar mandi, berisiko lebih besar mengalami pengikisan.
Bahkan, ganti kuku juga kerap terjadi pada Anda yang sering membersihkan cat kuku dengan aseton karena bisa menyebabkan kerusakan kuku.
Salah satu komplikasi penyakit hipotiroidisme adalah kuku yang terkelupas. Hipotiroidisme merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan hormon tiroid.
Akibatnya, fungsi tubuh pun tidak berjalan dengan baik. Selain ganti kuku, penyakit tiroid ini bisa disertai dengan gejala lainnya, seperti nyeri sendi dan kelelahan.
Salah satu penyebab kuku terkelupas yang paling sering terjadi yaitu kekurangan zat besi. Tubuh yang tidak mendapatkan asupan zat besi yang cukup menghasilkan kuku yang rapuh.
Sementara itu, kuku yang rapuh lebih rentan terkelupas. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan Anda anemia dan gejala anemia kemudian memengaruhi kekuatan lapisan kuku.
Bila Anda tengah menjalani pengobatan tertentu, ganti kuku bisa menjadi salah satu efek samping dari perawatan tersebut.
Sebagai contoh, kemoterapi pada pasien kanker menyebabkan mereka kekurangan vitamin dan mineral. Alhasil, kuku pasien lebih berisiko mengelupas ketika menjalani perawatan.
Pada dasarnya, pengobatan ganti kuku yang parah akan dilakukan berdasarkan apa penyebabnya.
Bila kerusakan kuku disebabkan oleh dehidrasi, Anda dianjurkan minum lebih banyak atau mendapatkan cairan tambahan dari infus di rumah sakit.
Sementara itu, masalah paru-paru yang menyebabkan kuku mengelupas bisa diatasi dengan berhenti merokok, terapi oksigen, hingga operasi.
Selalu diskusikan dengan dokter terkait pilihan pengobatan yang akan dilakukan untuk mengetahui apa saja manfaat dan efek samping perawatan.

Ganti kuku biasanya disebabkan oleh kekurangan zat besi yang bisa diatasi di rumah tanpa perlu mendapat obat-obatan dari dokter.
Anda mungkin akan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, seperti:
Selain makanan, dokter mungkin merekomendasikan suplemen zat besi untuk memenuhi kebutuhan harian Anda. Dengan begitu, masalah kuku mungkin akan cepat teratasi.
Jangan lupa untuk merawat kesehatan kuku, seperti berhenti menggigit kuku atau menjaga kelembapan kulit di sekitar kuku.
Untungnya, kuku yang terkelupas bisa dicegah dengan beberapa cara, seperti:
Bila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter guna memahami solusi apa yang tepat untuk Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Nall, Rachel. (2017). Peeling Nails. Healthline. Retrieved 20 February 2017, from http://www.healthline.com/health/peeling-nails
Burgess, L. (2018). How to fix peeling nails. Medical News Today. Retrieved 24 May 2021, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/322321
Fingernails: Do’s and don’ts for healthy nails. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 24 May 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/nails/art-20044954
12 Nail Changes A Dermatologist Should Examine. (n.d). American Academy of Dermatology. Retrieved 24 May 2021, from https://www.aad.org/public/everyday-care/nail-care-secrets/basics/nail-changes-dermatologist-should-examine
Tully, A.S. & Trayes, K.P. (2012). Evaluation of Nail Abnormalities. American Family Physician. Retrieved 24 May 2021, from https://www.aafp.org/afp/2012/0415/p779.html
Versi Terbaru
24/05/2021
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Nabila Azmi
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)