Silikosis adalah kondisi berlebihnya silika di dalam tubuh Anda akibat, misalnya, terlalu banyak menghirup debu silika dalam jangka waktu yang lama. Silika merupakan mineral seperti kristal yang ditemukan di pasir, batu, dan kuarsa. Silika berpotensi mematikan bagi orang dengan pekerjaan yang melibatkan batu, beton, kaca, atau jenis batu lainnya. Paparan partikel silika yang terjadi setiap hari dapat menyebabkan luka pada paru-paru sehingga mengganggu kemampuan untuk bernapas.

Ada tiga jenis dari silikosis:
Kondisi ini sangat umum dan biasanya lebih sering menyerang pria dibandingkan dengan wanita. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapa pun. Silikosis dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.
Beberapa tanda-tanda atau gejala silikosis adalah:
Gejala silikosis bisa terjadi dari beberapa minggu hingga tahunan setelah paparan terhadap debu silika. Gejala akan memburuk seiring berjalannya waktu, terutama begitu luka muncul pada paru-paru.
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.
Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.
Paparan terhadap crystalline silica merupakan penyebab utama penyakit ini. Debu silika berasal dari memotong, mengebor atau menggiling tanah, pasir, granit atau mineral lainnya. Daftar pekerjaan yang bisa membuat pekerja menghirup paparan crystalline silica, antara lain:
Pekerja pabrik, tambang, dan perbatuan memiliki risiko paling tinggi terhadap penyakit ini karena berhadapan langsung dengan silika. Orang yang bekerja dalam industri berikut memiliki risiko paling tinggi:
Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.
Dokter akan menyarankan rontgen dada untuk mendiagnosis jenis dari penyakit ini. Selain itu, Anda dapat melakukan pemeriksaan fisik, seperti pemeriksaan paru-paru. Hasil rontgen dada yang dihasilkan bisa jadi menunjukkan bahwa Anda memiliki banyak luka di paru-paru atau justru malah normal.
Beberapa rangkaian tes yang dapat berguna untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit ini adalah:
Penyembuhan penyakit ini tidak memiliki satu perawatan medis yang khusus. Sebab, tujuan dilakukannya perawatan adalah untuk mengurangi gejala yang muncul pada silikosis.
Obat batuk dapat mengurangi gejala batuk dan antibiotik juga bisa membantu mengatasi infeksi pernapasan.
Inhaler dapat digunakan untuk membuka saluran pernapasan. Beberapa pasien juga mengenakan masker oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen pada darah.
Jika Anda didiagnosis penyakit ini, hindarilah paparan silika. Berhenti merokok adalah cara terbaik untuk melindungi paru-paru dari kerusakan lebih lanjut.
Orang dengan kondisi ini juga memiliki risiko tuberkulosis (TB atau TBC) yang lebih tinggi. Anda harus dites secara rutin untuk TB apabila Anda memiliki silikosis. Pemberian obat untuk menyembuhkan TB mungkin dapat diberikan.
Pasien dengan silikosis parah mungkin memerlukan transplantasi (cangkok) paru-paru.
Beberapa hal yang dapat Anda lakukan di rumah untuk mencegah dan mengatasi sekaligus sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit ini, antara lain:
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.
Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Silicosis. http://www.lung.org/lung-health-and-diseases/lung-disease-lookup/silicosis/silicosis-symptoms-causes-risk.html. Accessed March 17, 2017
Silicosis. http://emedicine.medscape.com/article/302027-overview#a4. Accessed March 17, 2017
Silicosis. http://www.healthline.com/health/silicosis#Riskfactors3. Accessed March 17, 2017
Versi Terbaru
11/05/2020
Ditulis oleh Rena Widyawinata
Ditinjau secara medis oleh dr. Yusra Firdaus
Diperbarui oleh: Rena Widyawinata
Ditinjau secara medis oleh
dr. Yusra Firdaus