Neuropati perifer atau dikenal juga sebagai peripheral neuropathy adalah istilah yang menggambarkan kerusakan pada saraf tepi yang berada di luar otak dan sumsum tulang belakang.
Kondisi ini sering kali menyebabkan kelemahan, mati rasa, dan timbul rasa sakit pada area tangan, kaki, dan berbagai area lainnya pada tubuh Anda.

Sistem saraf tepi mengirimkan informasi dari otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) menuju ke seluruh area lain pada tubuh. Sebaliknya, saraf tepi juga mengirimkan informasi sensorik menuju ke sistem saraf pusat.
Biasanya, orang yang memiliki masalah pada sistem saraf tepinya akan merasakan sakit seperti terbakar atau tersengat. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan bisa berkurang, apalagi jika disebabkan oleh kondisi yang bisa diatasi dengan pengobatan.
Ada sekitar 1,6% hingga 8,2% populasi yang mengalami penyakit ini dan sering terjadi pada pasien diabetes. Hal tersebut dapat dikontrol dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.
Setelah mengetahui apa itu neruopati perifer, kini saatnya Anda memahami jenis-jenis dari penyakit saraf tepi ini. Sebenarnya, terdapat lebih dari 100 jenis neruopati perifer yang ditemukan.
Masing-masing jenisnya memiliki gejala yang berbeda. Biasanya, gejala dari neuropati perifer ditentukan berdasarkan jenis saraf yang mengalami kerusakan.
Berikut adalah saraf tepi beserta fungsinya yang mungkin mengalami kerusakan saat Anda mengalami neuropati perifer. Di antaranya adalah:
Saraf yang mengatur pergerakan seluruh otot di dalam tubuh yang digerakkan secara sadar, seperti otot yang digunakan untuk berjalan kaki, meraih benda, atau berbicara.
Saraf sensorik berfungsi untuk mengirimkan informasi seperti perasaan saat mendapatkan sentuhan, merasakan suhu, atau rasa sakit karena mengalami luka.
Saraf ini mengontrol organ-organ tubuh untuk mengatur aktivitas yang tidak bisa dikontrol secara sadar, misalnya bernapas, mencerna makanan, serta menjalankan fungsi hati dan fungsi kelenjar.
Sebagian besar neuropati dapat menyerang ketiga jenis saraf dengan tingkat keparahan yang berbeda, tapi beberapa jenis lainnya hanya menyerang satu hingga dua jenis saraf saja.
Dokter biasanya menggunakan istilah neuropati motorik dominan, neuropati sensorik dominan, neuropati sensori-motorik, atau neuropati autonom untuk menjelaskan berbagai kondisi yang berbeda-beda.
Setiap saraf di sistem perifer Anda memiliki fungsi tertentu, sehingga gejala yang muncul juga tergantung pada jenis saraf yang terkena dampak.
Gejala dari neuropati perifer termasuk:
Sementara itu, Anda mungkin juga merasakan beberapa gejala berikut ini, jika saraf autonom yang mengalami kerusakan:
Anda sebaiknya menghubungi dokter Anda jika Anda merasakan hal-hal berikut:
Ada banyak penyebab neuropati perifer, seperti:
Salah satu penyebab utama dari gangguan saraf tepi yang satu ini adalah diabetes, baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Kondisi ini disebut polineuropati diabetik.
Neuropati perifer ini mungkin terjadi karena kadar gula darah yang terlalu tinggi di dalam darah merusak pembuluh darah yang menyuplai darah pada sistem saraf.
Semakin lama Anda memiliki diabetes, semakin tinggi pula risiko Anda mengalami neuropati perifer. Diabetesi memiliki risiko polineuropati yang lebih tinggi apabila kadar gula darah tidak terkontrol, atau memiliki faktor pendukung lain, seperti memiliki kebiasaan merokok atau mengonsumsi alkohol, dan berusia lebih dari 40 tahun.
Selain diabetes, cedera fisik dapat menyebabkan cedera pada saraf. Sebagai contoh, cedera karena kecelakaan kendaraan, jatuh, olahraga, dan berbagai prosedur medis dapat membuat meregangkan, menghancurkan, atau menekan saraf.
Bahkan, trauma yang tidak terlalu parah pun bisa menyebabkan kerusakan saraf yang cukup serius. Tak hanya itu, patah tulang atau terkilir juga dapat menyebabkan kerusakan pada saraf di sekitarnya.
Gangguan dan infeksi autoimun juga dapat menyebabkan neuropati perifer. Contohnya, sindrom Guillain-Barre, lupus, rematik, dan sindrom Sjogren, adalah gangguan autoimun yang dapat menyebabkan neuropati perifer.
Sementara itu, infeksi seperti cacar air, HIV, herpes, sifilis, penyakit Lyme, leprosi, virus Epstein-Barr, dan hepatitis C juga dapat menyebabkan neuropati.
Gangguan pembuluh darah atau gangguan darah dapat menyebabkan penurunan suplai oksigen untuk saraf perifer dan berujung pada kerusakan jaringan saraf.
Oleh karena itu, diabetes, kebiasaan merokok, dan penyempitan pembuluh darah yang terjadi karena tekanan darah tinggi atau aterosklerosis dapat menyebabkan neuropati perifer.
Pasalnya, dinding pembuluh darah yang menebal dan luka dapat menghalangi aliran darah dan menyebabkan kerusakan saraf.
Tumor, baik yang dapat menyebabkan kanker maupun yang tidak, dapat terbentuk pada sistem saraf atau menekan saraf di sekitarnya sehingga menyebabkan neuropati perifer.
Tak hanya itu, sindrom Paraneoplastik, atau masalah kesehatan degeneratif yang terjadi karena respons sistem imun tubuh terhadap kanker, juga dapat menyebabkan kerusakan saraf di berbagai area tubuh.
Hormon yang tidak seimbang dapat mengganggu proses metabolisme secara normal. Jika sudah demikian, kondisi tersebut bisa menyebabkan pembengkakan pada jaringan yang dapat menekan saraf tepi, sehingga menyebabkan neuropati perifer.
Gangguan ginjal dan liver dapat menyebabkan peningkatan jumlah zat beracun di dalam darah yang dapat memicu kerusakan jaringan saraf. Sebagian besar orang yang menjalani dialisis karena gagal ginjal mengalami berbagai jenis polineuropati.
Obat-obatan kemoterapi yang biasanya dikonsumsi untuk mengatasi berbagai jenis kanker dapat menyebabkan polineuropati pada 30-40% penggunanya. Namun, hanya obat-obatan kemoterapi tertentu yang dapat menyebabkan neuropati dan tidak semua orang mendapatkannya.
Sayangnya, neuropati perifer yang terjadi akibat penggunaan obat-obatan kemoterapi bisa berlangsung untuk waktu yang lama, meski Anda sudah tidak menjalani kemoterapi lagi.
Tak hanya itu, terapi radiasi juga dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf, tapi baru akan terjadi setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah menjalani radiasi.
Bagi Anda yang mengalami kecanduan terhadap alkohol, risiko untuk mengalami gangguan saraf tepi akan meningkat. Pasalnya, alkohol dapat menyebabkan neuropati dalam dua cara.
Pertama, alkohol secara langsung meracuni saraf. Lalu, kecanduan alkohol membuat orang cenderung memiliki gaya hidup yang buruk. Hal ini menyebabkan kurangnya asupan nutrisi sehingga mengakibatkan defisiensi vitamin B dan nutrisi lain yang penting bagi fungsi saraf.
Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko kerusakan saraf, termasuk neuropati perifer, seperti:
Informasi yang disediakan bukan sebagai pengganti saran medis. SELALU konsultasikan dengan dokter Anda.
Dokter akan menyiapkan diagnosis berdasarkan catatan klinis dan pemeriksaan. Selain itu, Anda juga dapat melakukan tes lain untuk memastikan diagnosis dan menemukan penyebabnya seperti:
Tujuan dari pengobatan neuropati perifer adalah untuk mengontrol penyebab dan meredakan gejalanya. Pengobatan untuk kondisi ini sangat beragam, mulai dari penggunaan obat, terapi, hingga pengobatan alternatif, seperti berikut ini:
Obat-obatan yang dapat dikonsumsi untuk mengurangi gejala yang muncul:
Tak hanya obat-obatan, Anda juga bisa mengikuti terapi dan prosedur medis yang dapat meredakan gejala dari neuropati perifer, seperti:
Anda mungkin tidak suka mengonsumsi obat-obatan dan lebih merasa cocok menjalani pengobatan alternatif. Nah, ada beberapa jenis pengobatan yang bisa Anda lakukan untuk meredakan gejala, seperti:
Dikutip dari Mayo Clinic, berikut adalah saran yang bisa Anda ikuti untuk membantu Anda mengelola neuropati perifer:
Setiap orang dapat mengurangi risiko neuropati perifer dengan menjaga asupan alkohol yang masuk akal sesuai panduan medis. Diet seimbang yang sehat juga penting untuk mencegah kekurangan nutrisi makanan.
Diabetes tipe 2 adalah penyebab paling umum dari neuropati perifer kronis. Diabetes lebih sering terjadi pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas.
Oleh karena itu, mengontrol berat badan dapat membantu mengurangi risiko perkembangan diabetes. Jika Anda mengalami diabetes atau masalah medis lain yang dapat menyebabkan neuropati perifer, kontrol yang baik terhadap kondisi Anda dapat mencegah munculnya neuropati.
Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter Anda. Biasanya, dokter akan membantu Anda untuk lebih paham terhadap kondisi kesehatan, sekaligus mencarikan solusi terbaik untuk kesehatan Anda.
Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, atau pengobatan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Ferri, F. F. (2012). Ferri’s Netter patient advisor E-book. Elsevier Health Sciences.
Tidy, D. (2017). Peripheral Neuropathy. Neuropathy treatment and symptoms. Retrieved 1 December 2020, from https://patient.info/brain-nerves/peripheral-neuropathy-leaflet
Peripheral neuropathy . (2017). Retrieved 1 December 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/peripheral-neuropathy/
Peripheral neuropathy – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 1 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peripheral-neuropathy/diagnosis-treatment/drc-20352067
neuropathy, P. (2020). Peripheral neuropathy: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 1 December 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/000593.htm
Peripheral Neuropathy Fact Sheet. Retrieved 1 December 2020, from https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Peripheral-Neuropathy-Fact-Sheet
Neuropathy (Neuropathy Peripheral). Retrieved 1 December 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14737-neuropathy
Peripheral Neuropathy. Retrieved 1 December 2020, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/peripheral-neuropathy
Peripheral Neuropathy. Retrieved 1 December 2020, from https://brainfoundation.org.au/disorders/peripheral-neuropathy/
Versi Terbaru
21/07/2021
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
Diperbarui oleh: Nanda Saputri