Penyakit stroke adalah masalah kesehatan yang terjadi saat asupan darah menuju ke otak terganggu atau sama sekali terhenti, sehingga jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi. Akibatnya, dalam hitungan menit saja, sel-sel otak mulai mati.
Kondisi ini tergolong sebagai penyakit yang serius dan dapat membahayakan nyawa, oleh sebab itu membutuhkan pertolongan medis segera. Pertolongan yang cepat dan tepat dapat mengurangi risiko kerusakan otak dan berbagai komplikasi lainnya.

Gejala stroke sangat beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat, seperti kelumpuhan atau mati rasa di salah satu sisi wajah atau tubuh. Ada pula gejala lain dari penyakit ini seperti sakit kepala, kelemahan, masalah pada penglihatan, kesulitan berbicara dan memahami ucapan orang lain.
Penyakit ini bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari stroke pada anak hingga lansia. Untuk mencegahnya, Anda bisa meminimalisasi faktor risiko dari kondisi ini. Silakan berdiskusi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.
Setelah memahami apa itu stroke dan definisi lengkapnya, kini saatnya Anda memahami beberapa jenis kondisi tersebut, di antaranya:
Stroke iskemik tergolong jenis stroke yang paling banyak terjadi dibanding jenis stroke lainnya. Penyakit ini terjadi saat pembuluh darah yang terdapat di otak menyempit atau tersumbat, sehingga aliran darah menuju ke otak terhambat.
Stroke hemoragik terjadi saat pembuluh darah di otak mengalami kebocoran atau pecah. Kondisi ini berawal dari pembuluh darah yang melemah, kemudian pecah dan menumpahkan darah ke sekitarnya.
Kebocoran ini menyebabkan penumpukan darah yang mendorong jaringan otak di sekitarnya. Kematian atau koma panjang akan terjadi jika pendarahan terus berlanjut.
Stroke hemoragik terbagi ke dalam dua jenis:
Transient ischemic attack (TIA) atau sering disebut stroke ringan adalah kekurangan darah pada sistem saraf yang berlangsung singkat, biasanya kurang dari 24 jam atau bahkan hanya dalam beberapa menit.
Kondisi ini terjadi ketika terdapat gumpalan atau pembekuan darah yang menghambat aliran darah di sistem saraf pusat. Penyumbatan darah hanya terjadi sementara sehingga tidak menyebabkan kerusakan jaringan.
Namun, Anda memiliki risiko lebih tinggi apabila Anda pernah mengalami transient ischemic attack.
Gejala stroke cenderung terjadi secara tiba-tiba dan hanya selalu menyerang satu sisi bagian tubuh. Hal ini semakin memburuk dalam jangka waktu 24 sampai 72 jam. Gejala yang biasa terjadi termasuk:
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala stroke yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.
Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala stroke berikut ini:
Jika seseorang memiliki kecenderungan untuk terkena gejala stroke, Anda sebaiknya memperhatikan aktivitasnya untuk menjaga dan membawa mereka ke dokter sesegera mungkin;
Anda juga perlu memberikan pertolongan pertama pada pasien stroke jika terjadi serangan secara tiba-tiba.
Penyebab stroke biasanya tergantung pada jenisnya. Berikut ini adalah penyebab yang bisa Anda pelajari berdasarkan jenisnya.
Ada tiga jenis kondisi yang bisa menyebabkan stroke iskemik, seperti:
Penumpukan plak pada dinding arteri ternyata tidak hanya menyebabkan serangan jantung, tapi kondisi lain seperti aterosklerosis. Penumpukan plak ini menyebabkan pembuluh arteri menyempit, sehingga menghambat aliran darah menuju ke jaringan atau organ di dalam tubuh.
Penumpukan plak ini juga bisa terjadi pada pembuluh arteri di dalam otak maupun leher. Jika terjadi penyumbatan akibat plak yang menumpuk pada arteri baik di dalam otak maupun di leher, pasien akan mengalami stroke iskemik.
Selain menyumbat, plak yang terdapat di dalam pembuluh arteri juga bisa pecah. Sel darah di sekitar plak yang pecah akan saling menempel dan membentuk gumpalan darah. Darah yang menggumpal juga dapat menyumbat pembuluh arteri.
Meski penggumpalan darah terjadi pada bagian tubuh yang lain, gumpalan darah ini bisa bergerak hingga ke otak. Kondisi ini disebut juga sebagai stroke embolik.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh masalah kelainan darah seperti atrial fibrilasi dan penyakit sel sabit yang memicu penggumpalan darah dan menyebabkan stroke.
Berikut adalah beberapa kondisi penyebab stroke hemoragik:
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan serangan stroke hemoragik. Hipertensi dapat terjadi akibat adanya kelainan atau masalah pada ginjal, gaya hidup tidak sehat, atau konsumsi obat-obatan tertentu.
Aneurisma adalah peradangan atau pembengkakan dinding arteri yang terletak di dalam otak. Kondisi ini disebabkan dinding arteri mengalami penipisan dan menjadi lemah, sehingga peradangan terjadi.
Aneurisma bisa muncul sedari lahir (kongenital) atau berkembang seiring dengan berjalannya waktu, terutama jika memiliki riwayat hipertensi.
Malformasi arteri atau AVM adalah kondisi di mana terjadinya kelainan pada pembuluh darah. Sebenarnya kelainan ini dapat terjadi di bagian tubuh manapun, termasuk otak.
AVM biasanya didapati sejak lahir. Jika AVM terletak di otak, kondisi ini berisiko menyebabkan terjadinya pendarahan.
Beberapa orang yang mengonsumsi obat-obatan pengencer darah untuk mengurangi risiko penggumpalan darah justru berpotensi mengalami pendarahan pada otaknya.
Kondisi ini terjadi ketika plak atau darah beku pada pembuluh arteri yang terletak pada sistem saraf pusat menghambat pembuluh darah yang memasok darah ke otak.
Kondisi ini menyebabkan aliran darah ke otak menjadi tersumbat dan menimbulkan serangan stroke yang terjadi secara singkat.
Ada banyak faktor risiko penyebab stroke:
Tidak memiliki faktor-faktor risiko seperti di atas bukan berarti Anda tidak dapat terkena stroke. Faktor-faktor ini hanya sebagai referensi. Anda sebaiknya konsultasi dengan dokter Anda untuk penjelasan yang lebih rinci.
Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.
Ada beberapa jenis tes yang biasanya dilakukan dokter untuk mendiagnosis stroke, di antaranya:
Sama seperti gejala dan penyebab, pilihan untuk pengobatan stroke juga dibedakan berdasarkan jenisnya.
Pengobatan yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Penggunaan obat
Pengobatan utama yang biasa diberikan untuk mengatasi stroke iskemik adalah pemberian tissue plasminogen activator (tPA). Obat stroke ini dapat memecah gumpalan darah yang menghalangi aliran darah menuju otak.
Biasanya, dokter akan memberikan obat ini dengan cara menyuntikkannya di pembuluh vena pada lengan pasien. Obat ini dapat bekerja efektif jika diberikan dalam kurun waktu kurang lebih tiga jam saat gejala muncul.
Namun, jika Anda tidak bisa menerima pengobatan menggunakan tPA, dokter mungkin akan memberikan obat antikoagulan atau obat pengencer darah seperti aspirin atau klopidrogrel.
Fungsi dari obat ini adalah menghentikan pembentukan gumpalan darah atau mencegahnya berubah menjadi lebih besar. Efek samping dari penggunaan obat ini adalah perdarahan.
2. Prosedur medis
Selain penggunaan obat, Anda juga bisa menjalani prosedur medis untuk membuka arteri yang tersumbat dan mengembalikan aliran darah ke otak. Ada beberapa cara untuk melakukannya:
Pengobatan yang dapat dilakukan, termasuk:
1. Penggunaan obat
Obat untuk darah tinggi biasanya diberikan oleh dokter untuk membantu menurunkan tekanan darah dan regangan pada pembuluh darah yang terdapat di otak.
Anda juga akan disarankan untuk berhenti mengonsumsi obat antikoagulan atau obat pengencer darah yang berpotensi memicu perdarahan.
2. Prosedur medis
Ada pula beberapa prosedur medis yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi stroke hemoragik, seperti:
Sementara itu, pengobatan untuk stroke ringan biasanya hampir sama dengan pengobatan untuk stroke iskemik.
Apa saja perubahan gaya hidup atau obat stroke yang bisa dilakukan di rumah?
Berikut adalah gaya hidup dan perawatan di rumah yang dapat membantu Anda mengatasi penyakit ini:
Jika kondisi ini tidak segera diatasi, stroke dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan lainnya. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, berikut adalah beberapa komplikasi stroke yang mungkin terjadi:
Kesulitan untuk aktif bergerak seperti biasanya dalam jangka waktu yang lama meningkatkan potensi pasien untuk mengalami penggumpalan darah pada pembuluh vena di area kaki.
Bahkan, gumpalan darah ini bisa bergerak menuju ke organ tubuh lain, misalnya paru-paru. Meski begitu, kondisi ini bisa dicegah menggunakan obat atau alat bantu medis yang dapat memberikan tekanan pada betis untuk membantu darah di area tersebut tetap mengalir.
Jika kondisi ini menyerang otot yang digunakan untuk berbicara, pasien mungkin akan mengalami kesulitan berbicara atau berkomunikasi seperti biasanya.
Pada kasus tertentu, stroke dapat menyerang otot yang digunakan untuk buang air kecil dan mengatur pergerakan usus. Pasien mungkin harus menggunakan kateter hingga bisa buang air kencing secara mandiri seperti biasa.
Namun, pasien diharapkan untuk selalu waspada, karena penggunaan kateter juga dapat memicu terjadinya infeksi saluran kencing.
Kondisi ini juga dapat memicu terjadinya osteoporosis, meski hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh saja. Untuk mencegah terjadinya pengeroposan tulang, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani aktivitas fisik sebagai bagian dari rehabilitasi.
Kemampuan untuk merasakan rasa sakit atau suhu, baik dingin maupun panas, mungkin akan terdampak setelah mengalami stroke. Pasien mungkin juga akan mengalami gangguan penglihatan atau pendengeran sehingga tidak bisa melihat dan mendengar sebaik biasanya.
Penyakit ini bisa menyebabkan kekakuan atau kelemahan pada otot. Kondisi ini tentu membuat pasien menjadi kesulitan untuk berdiri atau berjalan seperti biasa. Bahkan, pasien mungkin tidak akan mampu menjaga keseimbangan atau mengontrol otot-otot pada tubuh.
Penyakit ini juga mungkin menyerang otot yang biasanya digunakan untuk mengunyah, sehingga pasien mungkin akan kesulitan saat sedang makan atau minum.
Bahkan, kondisi ini meningkatkan risiko pasien untuk memasukkan makanan atau minuman ke saluran pernapasan. Hal ini bisa memicu terjadinya pneumonia.
Kondisi ini mungkin akan mengganggu kemampuan pasien untuk fokus dalam melakukan aktivitas atau membuat keputusan. Penyakit ini juga meningkatkan risiko pasien mengalami demensia.
Seringnya, kejang dialami oleh pasien dalam kurun waktu beberapa minggu setelah mengalami stroke. Namun, komplikasi ini kemungkinannya semakin kecil seiring berjalannya waktu.
Setelah serangan stroke, cairan akan menumpuk pada otak dan tengkorang menyebabkan pembengkakan.
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Stroke. Retrieved 3 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/diagnosis-treatment/drc-20350119
Stroke – Overview. Retrieved 3 November 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/stroke/
Types of Stroke. Retrieved 3 November 2020, from https://www.stroke.org/en/about-stroke/types-of-stroke
Stroke. Retrieved 3 November 2020, from https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/stroke
What is a stroke? Retrieved 3 November 2020, from https://strokefoundation.org.au/About-Stroke/Types-of-stroke
Stroke. Retrieved 3 November 2020, from https://www.diabetes.org/diabetes/complications/stroke
Versi Terbaru
09/11/2021
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
Diperbarui oleh: Abduraafi Andrian