Sudah bukan rahasia umum bila kopi termasuk minuman favorit banyak orang. Di lain sisi, beberapa orang yang didiagnosis mengalami penyakit ginjal perlu menyesuaikan diri terhadap diet khusus. Apakah minum kopi memiliki bahaya untuk ginjal?
Sudah bukan rahasia umum bila kopi termasuk minuman favorit banyak orang. Di lain sisi, beberapa orang yang didiagnosis mengalami penyakit ginjal perlu menyesuaikan diri terhadap diet khusus. Apakah minum kopi memiliki bahaya untuk ginjal?

Ppasien sakit ginjal perlu menjalani diet khusus guna mencegah kerusakan ginjal semakin parah. Salah satu asupan yang perlu dihindari ketika mengalami sakit ginjal yaitu makanan dan minuman berkafein, seperti kopi.
Berikut sejumlah bahaya minum kopi kebanyakan untuk kesehatan ginjal yang perlu Anda waspadai.
Salah satu akibat keseringan minum kopi untuk ginjal yaitu meningkatkan risiko batu ginjal. Batu oksalat merupakan salah satu jenis satu ginjal yang paling umum dan kebetulan menjadi sumber utama oksalat dalam makanan, terutama kopi biasa.
Oleh sebab itu, pasien batu ginjal, terutama yang memiliki batu kalsium oksalat, perlu membatasi konsumsi kopi.
Bahaya keseringan minum kopi pun ternyata bisa meningkatkan risiko kanker ginjal. Walaupun demikian, risiko ini kemungkinan terjadi pada orang yang sering minum kopi tanpa kafein (kopi decaf).
Hal tersebut dibuktikan lewat penelitian yang dimuat di Cancer Causes and Control. Studi ini melaporkan bahwa konsumsi kopi tanpa kafein disinyalir dapat meningkatkan risiko subtipe karsinoma sel ginjal, yaitu salah satu jenis kanker ginjal.
Hanya saja, para peneliti masih membutuhkan studi lebih lanjut untuk memahami hubungan antara kopi decaf dan risiko kanker ginjal ini.
https://hellosehat.com/urologi/ginjal/pantangan-sakit-ginjal/

Pada dasarnya, bahaya minum kopi untuk kesehatan ginjal baru akan terlihat ketika Anda mengonsumsinya. Itu sebabnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika minum kopi, terutama pada pasien sakit ginjal, di bawah ini.
Begini, satu cangkir kopi hitam biasanya mengandung 116 miligram (mg) kalium. Artinya, kopi dianggap sebagai minuman dengan kalium yang rendah. Meski begitu, banyak orang yang minum kopi lebih dari satu cangkir setiap harinya.
Jadi, tiga sampai empat cangkir kopi sehari dianggap mengandung total kalium yang tinggi. Terlebih lagi, Anda mungkin menambahkan krim atau susu yang dapat meningkatkan asupan kalium pada kopi.
Oleh sebab itu, minum kurang dari tiga cangkir kopi per hari umumnya dianggap aman.
Selain jumlah cangkir kopi yang diminum, hal lain yang perlu diperhatikan saat minum kopi pada pasien ginjal yaitu tekanan darah. Kandungan kafein pada kopi dapat memicu peningkatan tekanan darah yang singkat, tetapi tiba-tiba.
Meski belum ada penelitian yang memperlihatkan akibat keseringan minum kopi pada pasien ginjal, membatasi konsumsinya termasuk ide yang bagus.
Bagaimana tidak, peningkatan tekanan darah akibat konsumsi kafein yang berlebihan dapat memicu stres pada ginjal dan memicu risiko penyakit batu ginjal.
Faktanya, apa yang ditambahkan ke dalam kopi sering menjadi pemicu bahaya dari minum kopi untuk kesehatan ginjal. Sebagai contoh, secangkir kopi latte tanpa sirup tambahan mengandung 183 mg fosfor dan 328 mg potasium (kalium).
Selain itu, krimer bisa menjadi dalang dari akibat keseringan minum kopi. Pasalnya, banyak produsen yang menambahkn fosfat kimia ke krimer kopi.
Kandungan ini mudah diserap oleh tubuh dan perlu dibatasi bagi siapa saja yang memiliki penyakit ginjal.
Normalnya, pasien dengan penyakit ginjal perlu memiliki batasan asupan cairan yang berbeda dengan orang sehat pada umumnya.
Sementara itu, kopi dianggap sebagai cairan, sehingga Anda perlu berhati-hati ketika konsumsi kopi dilakukan setiap hari.
Bila perlu, tanyakan kepada dokter terkait jumlah kopi yang boleh diminum mengingat Anda juga membutuhkan air putih guna menghidrasi tubuh.
https://hellosehat.com/urologi/ginjal/pemeriksaan-ginjal/

Pada dasarnya, bahaya minum kopi untuk ginjal akan muncul ketika Anda mengonsumsinya terlalu banyak. Padahal, sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa ada hubungan antara konsumsi kopi dan peluang untuk melindungi kesehatan ginjal.
Studi yang dimuat dalam The International Journal of Clinical Practice menunjukkan tidak adanya hubungan antara konsumsi kopi dan risiko penyakit ginjal kronis.
Penelitian yang dilakukan ini justru melaporkan kemungkinan penurunan penyakit ginjal kronis pada pasien yang minum kopi. Hasilnya, tidak ada hubungan antara kopi dan para pria peminum kopi yang mengidap penyakit ginjal kronis.
Meski demikian, para ahli masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana kopi bermanfaat kesehatan ginjal secara keseluruhan.
Di sisi lain, mereka berpendapat bahwa keuntungan ini mungkin didapatkan dari kandungan senyawa antioksidan dan efek anti-diabetes pada kopi.
Singkatnya, kopi termasuk minuman yang dapat diterima oleh pasien penyakit ginjal. Namun, Anda perlu minum kopi dalam jumlah sedang dan tidak berlebihan untuk menghindari bahaya dari minuman ini terhadap kesehatan ginjal.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Antwi, S., Eckel-Passow, J., Diehl, N., Serie, D., Custer, K., & Arnold, M. et al. (2017). Coffee consumption and risk of renal cell carcinoma. Cancer Causes & Control, 28(8), 857-866. doi: 10.1007/s10552-017-0913-z. Retrieved 23 July 2021.
Chauhan, V. (2020). Coffee’s Effect on the Kidneys. Verywell Health. Retrieved 23 July 2021, from https://www.verywellhealth.com/what-is-coffees-effect-on-the-kidneys-4147536
Coffee and Kidney Disease: Is it Safe?. (2017). National Kidney Foundation. Retrieved 23 July 2021, from https://www.kidney.org/newsletter/coffee-and-kidney-disease
Be aware of kidney-damaging foods. (n.d). Piedmont Healthcare. Retrieved 23 July 2021, from https://www.piedmont.org/living-better/be-aware-of-kidney-damaging-foods
Versi Terbaru
23/11/2021
Ditulis oleh Nabila Azmi
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Diperbarui oleh: Abduraafi Andrian