Ada cukup banyak kondisi atau masalah pada organ reproduksi wanita, salah satunya adalah perlengketan rahim atau sindrom asherman. Walaupun jarang terjadi, tak ada salahnya mengetahui gejala hingga pengobatan perlengketan rahim agar lebih mewaspadai kondisi ini.
Apa itu perlengketan rahim?
Perlengketan rahim atau sindrom Asherman adalah kondisi terdapatnya jaringan parut pada area rahim atau leher rahim.
Jaringan parut ini mengakibatkan dinding saling menempel sehingga memperkecil ukuran rahim. Dalam kasus yang parah, seluruh area rahim bahkan bisa menyatu.
Nama lain dari perlengketan rahim selain sindrom Asherman di antaranya adalah intrauterine synechiae, uterine synechiae, serta intrauterine adhesions (IUA).
Menurut Cleveland Clinic, sindrom Asherman jarang terjadi, langka, dan bukan menjadi masalah kesehatan wanita sejak lahir.
Dokter bahkan cukup sulit untuk mendiagnosis kondisi ini.
Sindrom Asherman diperkirakan hampir terjadi pada 20% wanita yang pernah melakukan prosedur kuret atau komplikasi kehamilan.
Gejala perlengketan rahim
Sebagian besar wanita yang mengalami sindrom Asherman mengalami gejala seperti aliran menstruasi yang sedikit (hipomenorea) hingga tidak mengalami menstruasi sama sekali (amenore).
Selain itu, berikut adalah gejala atau tanda lainnya dari perlengketan rahim:
- kram perut hingga nyeri parah,
- susah hamil,
- keguguran berulang, atau
- infertilitas.
Konsultasikan lebih lanjut mengenai kondisi serta gejala yang timbul pada dokter karena setiap orang mempunyai kondisi berbeda.
Ada kemungkinan pula wanita menunjukkan gejala atau tanda masalah pada rahim setelah melakukan prosedur kuret atau operasi rahim lainnya.
Penyebab perlengketan rahim
Penyebab yang paling umum dari kondisi sindrom Asherman adalah trauma pada rahim akibat pengikisan dinding rahim (prosedur dilatasi dan kuret).
Infeksi panggul parah yang tidak ada kaitannya dengan prosedur pembedahan juga dapat menjadi penyebab perlengketan rahim.
Sindrom Asherman juga bisa terbentuk karena adanya infeksi bakteri seperti tuberkulosis serta schistosomiasis (penyakit cacing parasit).
Tak hanya itu saja, berikut adalah beberapa penyebab perlengketan rahimn lainnya, seperti:
- jaringan parut setelah operasi Caesar,
- jahitan untuk menghentikan perdarahan,
- endometriosis,
- infeksi pada organ reproduksi, serta
- pengobatan dengan teknik radiasi.
Mendiagnosis sindrom Asherman
Dokter akan melihat riwayat kesehatan serta melakukan sampel darah untuk melihat apakah ada kondisi lainnya yang menyerupai gejala.
Umumnya, dokter akan melakukan diagnosis apabila Anda mempunyai beberapa keluhan, yaitu:
- pernah menjalani operasi rahim yang mengakibatkan menstruasi menjadi berhenti, serta
- kesulitan untuk hamil.
Namun, pemeriksaan fisik saja tidak cukup sehingga dokter akan melakukan pemindaian seperti USG untuk melihat ketebalan lapisan dan folikel rahim.
Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lainnya untuk mendiagnosis perlengketan rahim seperti berikut ini.
- Tes hormon untuk mencoba menginduksi penyebab terjadinya perdarahan.
- Ultrasonografi rahim dengan penggunaan larutan garam ke dalam rahim untuk melihat pencitraan yang lebih jelas.
- Histeroskopi dilakukan dengan memasukkan teleskop melalui serviks agar dapat melihat langsung ke dalam rahim.
- Histerosalpingografi (HSG) menggunakan sinar X untuk melihat penyumbatan pada saluran tuba dan rahim.
Dari beberapa pemeriksaan di atas, cara terbaik untuk mendiagnosis sindrom Asherman adalah histeroskopi.
Penggunaan teleskop dan kamera pada prosedur tersebut mempermudah dokter melihat seluruh rongga rahim.
Pengobatan perlengketan rahim
Tujuan pengobatan atau perawatan sindrom Asherman adalah untuk mengembalikan rahim ke ukuran dan bentuk normal.
Maka dari itu, kemungkinan dokter akan melakukan prosedur pembedahan seperti histeroskopi operatif.
Alat bedah kecil dipasang pada ujung histeroskop untuk menghilangkan perlengketan.
Perlu Anda ketahui pula bahwa prosedur bedah ini akan dilakukan dengan bius total.
Setelah prosedur, dokter mungkin akan memberikan resep antibiotik untuk mencegah infeksi.
Dokter juga akan memberikan obat hormon agar lapisan rahim tumbuh serta mengembalikan siklus menstruasi normal.
Jika Anda ingin merencanakan kehamilan, kemungkinan histeroskopi perlu diulang untuk memastikan tidak terjadi perlengketan rahim kembali.
Komplikasi jangka panjang
Meskipun telah melakukan perawatan atau pengobatan, sebagian wanita bisa saja tetap mengalami gangguan menstruasi.
Apabila ukuran perlengketan cukup luas, kondisi ini juga bisa memicu komplikasi seperti menurunnya keberhasilan kehamilan.
Sindrom Asherman juga meningkatkan risiko selama masa kehamilan, di antaranya adalah:
- plasenta previa,
- plasenta increta, dan
- perdarahan berlebihan.
Komplikasi lainnya yang juga mungkin terjadi adalah infeksi setelah prosedur operasi histeroskopi, seperti perdarahan hingga infeksi panggul. Namun, kondisi ini jarang terjadi.
Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter mengenai kondisi kesehatan Anda untuk menghindari efek jangka panjang.
[embed-health-tool-ovulation]
























